KEBENARAN DALAM ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI
Resume buku Etika dan Filsafat Komunikasi Muhammad Mufid,2009
Kelompok 6 Ilkom C
Kioko Vibie Adzira
Nindi Anggita Febriani
Queena Adzikra
Reza Dwi Pangestu
BAB 3
KEBENARAN DALAM ETIKA DAN FILSAFAT
KOMUNIKASI
A.
A.PENGERTIAN KEBENARAN
Secara etimologi (bahasa) kata “benar”
mempunyai arti :
1. Tidak salah, lurus, dan andil
Contohnya dalam kalimat, “hitungannya benar”.
2. Sungguh-sungguh, tidak bohong.
Contohnya dalam kalimat, kejadian itu benar
adanya
3. Sesungguhnya, memang demikian halnya.
Contohnya dalam kalimat, “benar ia tidak
bersalah, tetapi ia terlibat perbuatan ini”
4. Sangat, sekali
Contohnya dalam kalimat, “enak benar mangga
ini”
Sedangkan menurut epistemologi (istilah),
pengertian kebenaran dapat dilihat dari berbagai teori mengenai kebenaran, yang
antara lain (Suhartono Suparlan, 2007:93) antara lain :
1. Teori koherensi
Dalam teori ini pengetahuan, teori,
pernyataan, proposisi atau hipotesis akan dianggap benar bila selaras semuanya.
2. Teori korespondensi
Pernyataan akan dianggap benar jika
berhubungan dengan objek yang telah dituju.
3. Teori pragmatis
Suatu pernyataan yang benar jika konsekuensi
dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia.
4. Teori koherensi
Di mana akan menganggap benar jika berkaitan
dengan pernyataan sebelumnya yang sudah pasti benar.
B.
B. KEBENARAN ILMIAH DAN KEBENARAN NON-ILMIAH
Kebenaran
diperoleh secara mendalam dengan proses penelitian dan penalaran logika ilmiah.
Kebenaran ilmiah ditemukan dan telah diuji dengan pendekatan pragmatis,
koresponden, dan koheren. Berbeda halnya dengan kebenaran ilmiah diperoleh
berdasarkan penalaran logika ilmiah, ada kebenaran karena faktor-faktor
non-ilmiah.
Kebenaran
non ilmiah adalah :
·
Kebenaran karena
kebetulan
Kebenaran ini biasanya di dapat karena sebuah
hal kebetulan dan ini tidak secara ilmiah. Terkadang kita sering tertipu dengan
kebetulan yang tidak bisa dibuktikan akuratnya.
·
Kebenaran karena
akal sehat (common sence)
Kepercayaan bahwa hukuman fisik merupakan alat
utama untuk pendidikan adalah termasuk kebenaran akal sehat ini. Penelitian
psikologi tidak membenarkan hal tersebut.
·
Kebenaran agama
dan wahyu
Kebenaran mutlak dan asasi dari Tuhan.
·
Kebenaran
intuitif
Kebenaran didapat dengan proses luar sadar
tanpa menggunakan penalaran dan proses berpikir. Kebenaran ini kerap kali sukar
dipercayai dan tidak bisa dibuktikan tetapi sering dimiliki orang yang
berpengalaman lama dan mendarah daging.
·
Kebenaran karena
trial and error
Kebenaran ini biasanya dilakukan terus-menerus
sampai menemui titik terang tetapi kelemahannya adalah waktunya lama dan biaya
yang digunakan cukup banyak.
·
Kebenaran spekulasi
Kebenaran ini didapat dengan pertimbangan
meskipun kurang dipikirkan secara matang penuh dengan resiko, tapi bertimbal
balik dengan kebenaran trial and error biaya lebih murah.
·
Kebenaran karena
kewibawaan
Kebenaran ini terjadi ketika seorang ilmuwan mengeluarkan
pernyataan diterima begutu saja tanpa perlu diuji. Kebenaran ini bisa saja
salah.
·
Kebenaran karena
kekuasaan
Pernyataan akan dianggap benar atau salah jika
adanya intervensi kekuasaan.
C. KEBENARAN KEFILSAFATAN
4
aspek kebenaran kefilsafatan ( Suhartono Suharlan, 2007: 93-94 ) :
1.
Objek Materi
Filsafat mempelajari segala sesuatu yang ada,
sehingga dapat kita pahami bahwa kebenaran ilmu pengetahuan filsafat bersifat
umum-universal, yang berarti tidak terkait dengan jenis-jenis objek tertentu.
Misalnya, objek manusia, maka tidak dibatasi oleh etnis,golongan, dan zaman.
Kebenaran terkait manusia harus mencangkup semua golongan manusia. >
Kebenaran filsafat lebih cenderung bersifat universal
2.
Objek Forma
Bersifat metafisika, yakni mengikuti ruang
lingkup mulai dari konkret-khusus sampai kepada yang abstrak-universal.
Contohnya : macam-macam segitiga yang sebenarnya memilki sifat yang sama, yaitu
tiga garis lurus yang saling berpotongan dan membentuk tiga sudut yang semuanya
berjumlah 180 derajat. Itulah acuan kebenaran filsafat yang abstrak-metafisika.
3.
Metode
Kefilsafatan terarah pada pencapaian
pengetahuan esensial atas setiap hal dan pengetahuan eksistensial daripada
segala sesuatu dalam keterikatan yang utuh (kesatuan)
4.
Sistem
Kebenaran bersifat dialektis, yakni senantiasa
terarahkepada keterbukaan bagi masuknya ide-ide baru dan pengetahuan baru yang
semakin memperjela kebenaran.
D. KEBENARAN SEBAGAI NILAI FUNDAMENTAL
Lous
Avin Day dalam bukunya yang berjuduk “Ethics in Media Communication “, 2006 :78
mengatakan bahwa lawan dari kebenaran adalah bohong (Lying),Penipuan (Deception),
dan ketidakjujuran (Dishonesty).
·
Deception : pesan
komunikasi yang disengaja agar orag lain mendapatkan pemahaman yang salah, atau
agar mereka meyakini apa yang kita sendiri tidak yakin. Deception tidak hanya dilakukan dari ucapan, tetapi juga prilaku,
gerak tubuh,hingga sebuah senyum.
·
Lying :
Lying, atau kebohongan merupakan
sub-kategori dari deception, meliputi
komunikasi tentang informasi yang salah, dimana komunikator sendiri mengetahui
bahwa informasi tersebut adalah salah. Menurut Day, Kategori ini banyak
dilakukan oleh praktisis media.
Komitmen
terhadap kebenaran merupakan salah satu nilai fundamental dalam kehudpan manusi
sejak dahulu kala. Sejatinya kebenaran sebagai sebuah norma adalah bukan hal
yang baru.
E. MAKNA PENTING KEBENARAN
Hakikat
manusia adalah makhluk relasional, Yang berarti setiap individu pasti terlibat
relasi dengan sesamanya. Hal ini terdapat dalam teori interaksi simbolis, Yang
menyebabkan teori interaksi simbolik menjadi yang terdepan bila dibandingkan
dengan teori-teori sosial lainnya. Interaksi membutuhkan simbol-simbol yang
biasanya disepakati bersama dalam skala kecil pun skala besar dan berbentuk
seperti bahasa, tulisan, dan simbol lainnya yang dipakai-bersifat dinamis dan
unik. Manusia dituntut untuk lebih kritis, peka, aktif, dan kreatif dalam
menginterpretasikan simbol-simbol yang muncul dalam interaksi sosial. Hal ini
dimaksudkan agar terjadi penafsiran yang tepat atas simbol tersebut yang turut
menentukan arah perkembangan manusia dan lingkungan, Dan jika terjadi
penafsiran yang keliru atas symbol maka akan menjadi petaka bagi hidup manusia
dan lingkungannya.
Selain
Keterbukaan individu dalam mengungkapkan diri, Pemakaian simbol
yang baik dan benar juga diperlukan agar tidak terjadi interpretasi yang
keliru. Unsur subyektif harus diminimalisir dengan cara, subyek harus
memperlakukan individu lainnya sebagai subyek lainnya dan bukan obyek agar
terciptanya interaksi melalui simbol
yang baik, benar, dan dapat dipahami secara utuh.
Kebenaran
merupakan rumusan bersama sebagai hasil interaksi sosial. Artinya, terdapat
beberapa hal di dalam konteks interaksi sosial, sehingga
kebenaran dipandang sebagai sesuatu yang penting dalam sebuah peradaban.
Berbagai alasan pentingnya komitmen kebenaran yaitu yang pertama, manusia
sangat bergantung pada kebenaran dan akurasi dari informasi yang kita peroleh.
Kedua, kebenaran menunjukkan rasa menghargai orang lain karena Kebenaran
dianggap sebagai bagian dari penghargaan terhadap orang lain dan akan menumbuhkan
rasa kepercayaan antar individu. Dan yang terakhir, kebenaran merupakan unsur
yang esensial bagi kelancaran proses demokrasi.
Karena dalam
rancah politik, Masyarakat memiliki berbagai macam bentuk keyakinan yang
beragam dan berbeda-beda hingga dapat menimbulkan kontroversi satu sama lain.
Pendapat-pendapat tersebut tidak dapat diterima begitu saja sebagai opini
publik. Karena harus melalui sebuah proses seleksi yang di dalam proses
tersebut, argument atau pendapat yang ada akan di pertimbangkan mana yang
paling rasional di antara argumen-argumen tersebut dan mana yang memiliki
kualitas terbaik dan dapat dijadikan
sebagai opini publik. Di dalam komunikasi public, kualitas suara akan lebih menentukan
dibandingkan kuantitasnya. Hal tersebut menjadi penentu apakah sebuah argumen
yang lebih baik akan mendapatkan mayoritas suara atau tidak, atau akan
ditentukan oleh kualitas publik itu sendiri.
F. DIKOTOMI KEBENARAN
DALAM KOMUNIKASI
Menurut Yasraf Amir Piliang (1999),
Jarangingan komunikasi global mengiring arah proses komunikasi dan arus
informasi yang cepat dan padat. Meningkatnya tempo kehidupan membuat
kebergantungan tinggi pada teknologi informasi dan komunikasi, Tertapi dengan
tumbuhnya teknologi informasi dan komunikasi dengan cepat juga diiringi dengan
pola komunikasi yang semakin cepat, ringkas dan padat. Dorongan kecepatan yang
tidak bisa dikendalikan Komunikasi dan informasi menjadi sebuah terror (terrot
of speed) dimana mengahasilkan kecemasan
dan panik : pergantian citra televisi yang tidak sanggup dicerna; pesan
e-mail, blog yang tidak bisa dimaknai; kecepatan pergantian perangkat lunak yang tidak bisa diikuti; pergantian gaya hidup yang selalu
berubah yang membuat orang merasa kurang dan ketinggalan zaman.
MENUJU TEORI
DISINFORMASI
Media
Komunikasi di abad informasi-digital terjadi pelencengan fungsi komunikasi,
kesimpangsiuran tanda, pengaburan makna, pendistorsian realitas, dan penisbian
kebenaran. Komunikas tidak ada tujuan pasti; informasi tidak mempunyai makna
yang jelas, berkembang ke arah sifat superlatif yang diproduksi
berlebihan. Realitas komunikasi kondisi
kemustahilan interpretasi karena apa yang ditampilkan bagai sebuah kebernaran (truth) boleh jadi tidak kebih dari
kebohongan ( cerita retoris). Tidak ada batasan antara benar dan palsu, orang
dihadapkan kesulitan yang memisahkan antara kebenaran dan kepalsuan. Kepalsuan
yang dikemas dengan teknik iamgologi lewat manilpulasi computer graphic dapat tampil sebagai kebenaran yang
meyakinkan. Kebenaran media massa kadang
berbeda dengan kebenaran versi masyarakat. Hal ini karena aplikasi kebenaran
media dipengaruhi lingukngan yang melingkupi media, seperti pemilik modal dan
pengiklan.
Jurnalistik terdapat strandar
minimum kebenaran dalam me-report kebenaran.
Pertama, Report harus akurat dengan
melkukan verifikasi fakta sehingga mendapatkan bukti valid. Reporter mempunyai
kewajiban menyampaikan kebenaran dengan memilih narasumber dengan track record
yang dipercaya. Kedua, dalam mendukung kebenaran jurnalis perlu melakukan upaya
pencerdasan dengan mendorong pemahaman audiens. Kadang pemahaman audiens
dibatasi waktu dan space terhadap
suatu liputan, maka laporan harus berisi informasi yang memberi pemahaman pada
audiens. Demikian jurnalis memosisikan diri antara membuka semua hal atau tidak
me-report hal tersebut. Bisa menjadi
rumit jika jurnalis mendapat tekanan dari Politik atau ekonomi.
Ketiga, Laporan mesti bersifat fair dan seimbang. Ini merupakan prinsip menhindari bias dalam laporan. Reporter harus menguasai materi yang dilaporkan sehingga dapat tahu bila ada bias dalam laporan. Menurut Alvid Day reportase yang bias berpotensi muncul di situasi krisis. Mengenai ambigutas kebenaran dalam media, Bill Kovach dan Rosentiel, dalam buku The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect (2001), bahwa masyarakat butuh prosedur dan proses untuk mendapatkan kebeneran fungsional.Polisi melacak dan menangkap tersangka. Hakim melakukan peradilan, kedua profesi tersebut berjalan berdasarkan kebenaran fungsional. Pabrik-pabrik diatur, pajak dikumpulkan, dan hukum dibuat. Guru mengajar pelajaran pada anak-anak sekolah. Semua ini merupakan kebenaran fungsional. Dikotomi lain pada media adalah kebenaran dalam iklan. Iklan mengkonstruksikan kebenaran kemudian digandakan secara massal sehingga masyarakat melihat konstruksi kebenaran dan percaya terhadap hal tersebut. Merupakan kebenaran. Iklan menjungkirbalikkan yang sebelumnya merupakan kebutuhan untuk masyarakat kemudian diubah menjadi keinginan. Etika periklanan mengatakan bahwa pemilik memiliki tanggung jawab atas kebenaran informasi terkait produk yang diiklankan. Seperti memberi arah, batasan dan masukan agar tidak terjadi janji berlebih dalam suatu produk. Tingginya tingkat pelanggaran etika iklan seperti obat bebas, obat tradisional dan suplemen makanan sudah memprihatinkan. Dimana ketiga jenis produk tersebut memiliki teknis medis yang membahayakan masyarakat bila digunakan tidak benar atau tidak wajar.
Pertanyaan
:
1.
Dalam kebenaran
filsafat terdapat 4 aspek yang harus terpenuhi, yaitu objek materi yang dimana
kebenaran mengenai manusia harus pula mencangkup semua golongan manusia, namun pada
kebenaran non-ilmiah terdapat faktor kebenaran karena kekuasaan, yang
dimana sangat bertolak belakang dengan 4 aspek kebenaran filsafat. Apakah
faktor kebenaran non ilmiah dan 4 aspek kebenaran tidak berkaitan?
2. Di buku Etikom Bab 3 membahas tentang kebenaran di dalam etika dan filsafat disitu dijelaskan mengenai kebenaran ilmiah dan kebenaran non ilmiah. Lalu ada definisi kebenaran non ilmiah salah satunya kebenaran karena trial and error dan kebenaran spekulasi bagaimana contoh dikehidupan nyatanya ya mba Isti karna di buku tidak ada contohnya?
Komentar
Posting Komentar