Respon Paper : Fenomena Konten Prank Berkedok Sedekah dan Pola Konsumsi Media Masyarakat Indonesia

Kioko Vibie Azira - 2019041039


        I.            Latar Belakang

Komunikasi adalah proses pertukaran pesan anatara komunikator dengan komunikan yang dimediasi oleh suatu perantara. Dalam prosesnya, terdapat sebuah timbal balik atau feedback berupa respon terhadap pesan dari sang komunikator. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa proses komunikasi bukan hanya mengenai pesan yang disampaikan saja, namun terdapat dampak dari makna pesan tersebut. Dampak yang muncul dapat bersifat positif, maupun negatif, semua tergantung pada bagaimana cara komunikator menyampaikannya dan juga bagaimana komunikan memaknai pesan tersebut. Tentu saja sudut pandang orang-orang itu berbeda-beda, tergantung dengan latar belakangnya masing-masing. Sehingga dibutuhkan ketelitian dalam penyampaian suatu pesan agar tidak terjadinya kesalahpahaman dari makna yang sebenarnya ingin disampaikan kepada komunikan, namun diterima secara tidak utuh.

Di masa modernisasi saat ini, terpaan informasi semakin meningkat karena munculnya media-media baru berkat perkembangan teknologi komunikasi saat ini yang semakin canggih.  Hal tersebut sangat berdampak pada perubahan pola komunikasi dan interaksi manusia dan hubungannya dengan jaringan informasi dan komunikasi. Perkembangan internet di era modern atau era New Media semakin banyak diminati oleh masyarakat, hingga kehidupan saat ini tidak dapat terlepas dari internet. Hal tersebut dikarenakan telah munculnya fitur-fitur atau aplikasi dengan segala kecanggihannya yang memungkinkan para khalayak internet dapat mengakses sajian dari fitur-fitur tersebut yang memudahkkan segala pekerjaannya. Tidak hanya itu, internet juga menjadi salah satu inovasi terbaik karena internet membuat kita dapat berkomunikasi jarak jauh.

Salah satu platform yang telah muncul pada masa modern ini yaitu Youtube, yang diciptakan pada tahun 2005, juga merupakan bagian dari Google. Youtube merupakan salah satu Platform paling popular dan banyak diminati oleh seluruh pengguna internet diberbagai belahan dunia. Pengakses Youtube juga semakin meningkat dari tahun ke tahun hingga mencapai milyaran orang perbulannya. Youtube memiliki popularitas yang tinggi disebabkan oleh nilai guna yang dimilikinya sangatlah tinggi dan beraneka ragam. Hanya melalui satu platform, kita dapat mengakses lebih dari satu fitur yang telah diberikan oleh Youtube. Karena Youtube bukan hanya sebagai media hiburan saja, melainkan kita dapat mencari berbagai informasi di dalamnya, serta sangat membantu kita belajar berkat kelengkapan informasi yang Youtube tawarkan. Jadi Youtube bukanlah media untuk menonton suatu siaran saja. Oleh sebab itu, munculnya platform Youtube ini sangat berdampak pada dunia pertelevisian karena keunggulan yang dimilikinya tidak dimiliki oleh televisi.

Para stasiun TV harus bangkit dan mencari inovasi baru atau jalan keluar agar dapat beradaptasi dalam era New Media saat ini dan mengikuti perkembangan jaman. Seperti yang terterda pada jurnal berjudul ‘Media Televisi di Era Internet’ oleh Aceng Abdullah dan Lilis Puspitasari, Universitas Padjadjaran tahun 2018, mejelaskan bahwa Keberadaan televisi dalam era internet saat ini telah mengalamai ancaman dari kehadiran media sosial karena bagi sebagian khalayak khususnya generasi milenial selalu mengikuti perkembangan jaman dan mulai menggantikan media-media lama, khususnya TV pada kasus ini digantikan dengan Youtube. Keunggullan dari platform Youtube tersebut yaitu memungkinkan semua orang untuk menjadi produsen informasi ataupun konsumen informasi, Dimana kita tidak perlu tergabung dalam suatu organisasi media yang telah terverifikasi terlebih dahulu. Dan juga dalam dunia Youtube, aturan mengenai konten yang dipertontonkan ke media massa dapat dibilang sangat bebas, maka sangat bertolak belakang dengan TV yang dalam proses produksinya diawasi dengan ketat dan harus mematuhi aturan yang berlaku. Karena dalam media sosial, semua orang memiliki kebebasan dalam memproduksi dan mengkonsmsi informasi.

Namun karena kebebasan dalam penggunaan media komunikasi tersebut, menimbulkan beberapa dampak negatif dikarenakan kebebasan tersebut telah disalahgunakan oleh oknum-oknum yang mencari celah untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan tidak memikirkan konsekuensi atau dampak yang dapat timbul pada khalayak media akibat minimnya moralitas dalam penggunaan media.

 

      II.            Isi

Kebebasan dalam dunia media sosial membuat kita dapat menjadi kreatif dan berekspresi sesuka hati. Kita juga dapat menyebarkan ke khalayak tentang ide-ide kita ataupun karya yang nantinya akan berguna bagi orang lain. Namun kadang kebebasan tersebut terlalu dilampaui dan akhirnya berkesan liar. Khalayak internet bebas untuk membuat konten, contohnya pada platform Youtube yang telah digunakan oleh milyaran orang. Para konten creator atau orang yang memproduksi video di Youtube juga bebas memilih tema apa yang ia ingin sampaikan dan tujuannya untuk apa. Tapi selain memikirkan tema apa yang akan ia buat, konten creator juga perlu memikirkan dampak apa yang akan muncul sebelum ia mengangkat sebuah tema. Karena kebebasan dan tanggung jawab muatan pesan sebagai etika komunikasi perlu diimbangkan antara keduanya. Tanggung jawab mengenai makna pesan sangatlah harus diperhatikan karena akan mempengaruhi orang lain yang akan memaknainya, hal ini tidak akan membuat seseorang akan kehilangan haknya untuk bebas dalam berekspresi (Mufid:2009:243).

Youtube yang sekarang sedang diminati oleh para masyarakat umum dari berbagai usia ini dijadikan sebagai wadah yang menampung dan menyalurkan ide-ide dari pengguna Youtube yang telah menjadi konten creator. Selain kecanggihan yang ditawarkan oleh Youtube, kita juga akan mendapat penghasilan yang sangat besar dari hasil jumlah orang-orang yang menonton video yang telah kita unggah di Youtube. Hal ini membuat sebagian besar masyarakat berlomba-lomba dalam membuat sebuah konten yang sekiranya akan menarik perhatian publik. Layaknya sebuah kompetisi, seluruh konten creator di Youtube berusaha memperebutkan para penonton sasaran media serta dalam konteks atau tema video yang akan mereka unggah untuk umum. Persaingan ketat antar para konten creator ini adalah sebuah tantangan terbesar dalam dunia Youtube untuk terlihat menonjol dari sekian banyaknya orang dengan tujuan yang sama (Sugiana dkk:2019:1).

Agar terlihat menarik, biasanya para konten creator melakukan hal-hal yang dapat dibilang cukup ekstrim dan kadang terlewat batas hanya untuk mengejar jumlah penonton.

Seperti yang dilakukan oleh salah satu konten creator Youtube atau biasa disebut youtuber,  asal Indonesia yang bernama Hasan Abdillah. Demi menarik perhatian khalayak khususnya di Indonesia, ia membuat video berjudul “ORDER PIZZA 1.000.000 GW CANCEL, TERUS GW GA NGAKU KALO ORDER! BAPAK INI NANGIS”. Dalam video tersebut ditunjukan bahwa Hasan yang merupakan pemilik dari akun youtube tersebut, telah mengorder makanan berupa pizza dengan harga Rp. 1.000.000 melalui layanan pesan antar ojek online. Setelah pesanan itu tiba di lokasi yang dituju yaitu tempat Hasan berada, Hasan tidak mengaku bahwa ia adalah orang yang memesan makanan tersebut dan kemudian membatalkan orderannya sehingga bapak ojek online yang sudah terlanjur membayar semua biaya pizzanya itu dengan uangnya sendiri pun kaget dan menangis sedih karena tidak tahu harus berbuat apa. Setelah Hasan merasa puas dengan membodoh-bodohi ojol tersebut ia pun mengaku bahwa ia berbohong dan ia sedang membuat konten untuk video barunya. Di akhir video, Hasan membayar semua biaya orderannya itu dan memberikan hadiah berupa uang tunai dan barang-barang berharga lain kepada ojol itu sebagai balasan bentuk minta maaf.

Jika dikaitkan dengan teori mengenai Kepentingan, Tekanan ekonomi, dan Tanggung jawab sosial, video Hasan tersebut menjadi contoh bahwa tanggung jawab sosial sering dikalahkan oleh kepentingan ekonomi (Mufid:2009:212). Dimana Hasan telah memanfaatkan kondisi perekonomian ojek online tersebut sehingga mau tidak mau ia memaafkan tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh Hasan kepadanya. Padahal uang ganti rugi yang Hasan berikan tidak dapat dipandang sebagai pembenaran dari perilakunya itu. Apalagi uang yang Hasan hasilkan dari unggahan video tersebut bernilai ratusan juta rupiah dikarenakan jumlah penontonnya melunjak naik, sangat tidak sepadan dengan iming-iming hadiah yang Hasan berikan pada ojol tersebut yang bisa saja trauma akibat perbuatannya. Kasus ini juga masuk dalam teori Konflik Kepentingan dan Budaya Populer, karena Hasan sebagai konten creator lebih mengedepankan keuntungan pribadinya dibanding moralitas atau sisi kemanusiaannya dengan status yang ia miliki (Mufid:2009:287). Hasan seolah-olah menjadikan emosi kesedihan dari ojek online tersebut sebagai tontonan yang akan menjadi sumber penghasilannya. Hal ini tentu saja mengundang sorotan dari masyarakat public serta komentar-komentar menjatuhkan mengenai vidionya tersebut dengan harapan dapat membuat Hasan jera dan juga beberapa orang melaporkan vidionya tersebut agar pihak dari Youtube sendiri dapat menghapusnya. Ini masuk dalam kategori konflik antar individu dan kelompok, dimana Hasan diserang secara ramai-ramai oleh para penonton vidionya sendiri agar video tersebut diturunkan dan Hasan tidak mendapat keuntungan apapun. Dan konflik ini juga masuk dalam sumber konflik kepentingan, yaitu pemberian dan hadiah, dimana Hasan merasa dengan ia memberikan ojek online tersebut hadiah, maka masalah akan selesai dan ia menggunakan kedok sedekah. Padahal khalayak internet tidak mungkin sebodoh itu untuk mengerti niat dibalik vidionya tersebut yang akhirnya telah dihapuskan, entah itu dari pihak Youtube, atapun Hasan sendiri yang mungkin sudah tidak tahan melihat komentar para masyarakat Indonesia di kolom komentar vidionya.

Tindakan yang dilakukan oleh warga internet tersebut juga sebagai bentuk upaya masyarakat agar para konten creator lainnya tidak terpengaruh dan tidak akan mencoba tindakan yang diambil oleh Hasan tersebut demi mendapatkan keuntungan dari hasil mempermalukan orang lain.

 

    III.            Kesimpulan

Perkembangan teknologi komunikasi yang semakin pesat memberikan berbagai kemudahan bagi masyarakat di seluruh dunia untuk berkomunikasi ataupun untuk mendapat informasi. Di masa kini, yaitu masa dimana internet adalah sumber dari berbagai informasi serta wadah untuk menumpahkan aspirasi menjadi hal yang lekat di kehidupan sehari-hari. Kebebasan yang kita dapat untuk menyalurkan aspirasi tersebut dimediasikan melalui platform-platform yang nantinya akan dipublikasikan dan dipertontonkan bagi warga internet. Maka dari itu, kita harus pintar dalam menggunakan internet dan memilah konsumsi konten yang akan kita pilih, jangan sampai kita mendukung aksi-aksi para oknum yang sengaja ingin mengundang perhatian publik dengan tindakan yang akan memicu perdebatan dan sebenarnya hal itu hanyalah jebakan. Para konten creator atau mungkin masyarakat yang sudah memiliki niat untuk menjadi konten creator juga perlu mencari konten-konten berkualitas yang dapat membantu orang lain, bukan hanya konten tidak memiliki nilai dan manfaat saja dengan mengedepankan keuntungan pribadi terlebih dahulu dibanding isi pesan yang ingin disampaikan.

 

   IV.            Referensi

https://www.academia.edu/39993407/EBOOK_Komunikasi_dalam_Media_Digital?email_work_card=view-paper

https://www.academia.edu/38933225/ETIKA_DAN_FILSAFAT_KOMUNIKASI?email_work_card=view-paper

http://jurnal.unpad.ac.id/protvf/article/viewFile/19880/9080

https://www.hitekno.com/internet/2019/12/10/160159/dihujat-usai-bikin-prank-ojol-ini-pendapatan-hasan-abdillah-dari-youtube

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KONFIDENSIALITAS DAN KEPENTINGAN UMUM

KEBENARAN DALAM ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI