FILSAFAT DAN PERKEMBANGAN ILMU KOMUNIKASI

Resume buku Etika dan Filsafat Komunikasi Muhammad Mufid,2009

Kelompok 6 Ilkom C

Kioko Vibie Adzira

Nindi Anggita Febriani

Queena Adzikra Arza

Reza Dwi Pangestu 

 

BAB 2

FILSAFAT DAN PERKEMBANGAN ILMU KOMUNIKASI

 

A.                  Kodrat Filsafat

Filsafat bertitik tolak pada pengalaman, Dan manusia memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang apa yang akan meniadi bahan refleksinya untuk memberi makna kehidupan dalam filsafat dengan cara bentuk pengetahuan tertentu. Filsafat juga digunakan sebagai penielasa yang rasional mengenai persoalan-persoalan yang mereka dapat kita temukan  dalam kehidupan sehari- hari.

Ada tiga ciri khas kualitas pengetahuan filsafat menunjuk bahwa suatu pengetahuan itu khas filosofis. Yang pertama adalah akal budi, Metodenya dilakukan dengan penalaran murni menggunakan panca indera untuk mengenal dunia real yang rasional melalui seleksi akal budi. Yang kedua, hakikat metode filsafat adalah rasional yang bersifat  multipleks, yaitu bermetode induktif atau deduktif. Dan ketiga yaitu, filsfat tidak bersifat praktis. Filsafat mencari kebenaran dan pengeta-huan. Mempunyai tujuan teoritis secara murni atau kontemplatif dan bersifat bebas.

B. RELASI FILSAFAT DAN ILMU

                Menurut F. Budi Hardiman ada 3 posisi memahami hubungan  antara sains dan agama dalam mencari kebenaran. Pertama, sains dan agama mempunyai teritorum yang beda dalam mencari kebenaran. Kedua, agama dan sains dapat masuk ke arena  yang sama dalam mencari makna. Ketiga, agama dan sains menerangi realitas sama dengan prespektif yang berbeda. Kebenaran dalam filsafat dan ilmu adalah “kebenaran akal”, kebenaran menurut agama adalah “kebenaran wahyu”. Sejatinya tanpa agama manusia sudah dapat menemukan kebenaran, bahkan mampu menentukan adanya “Tuhan”, sesuatu diluar manusia yang bisa menentukan baik buruk kehidupan manusia.

                Deri pernyataan tersebut, bahwa sebelum turun wahyu yang dibawa oleh agama-agama samawi atau agama langit (agama diturunkan oleh tuhan) adalah sudah adanya agama ardhi atau agama bumi, yakni agama merupakan murni hasil cipta, karya, dan karsa manusia. Melalui agama bumi, manusia menentukan personifikasi tuhan, cara beribadah, menuntukan mana norma yang baik atau buruk di hadapan tuhan ciptaan manusia. Demikian bahwa tanpa agama dan wahyu manusia dapat menentukan kebaikan, kebenaran, dan tuhan.

                . Meski filsafat dan ilmu mencari kebenaran dengan akal, hasil yang diperoleh oleh filsafat atau ilmu juga bermacam-macam. Hal ini dapat dilihat pada aliran yang berbeda-beda , baik dalam filsafat atau dalam ilmu. Demikian terdapat variasi agama yang masing-masing mengajarkan kebenaran. Bagaimana mencari hubungan antara ilmu, filsafat, dan agama. Pengetahuan adalah sesuatu yang tergambar dalam pikiran. Ilmu adalah pengetahuan yang telah disusun lebih lanjut dan telah dibuktikan serta diakui kebenarannya. Jika seseorang bertanya terus tentang apa manusia itu atau apa hakikatnya. Jawabannya akan berupa “filsafat”. Hal ini yang dikemukakan bukan susunan tubuhnya, kebudayaanya  dan hubungan sesama manusia, tetapi hakikat manusia yang ada di balik tubuh, kebudayaan dan hubungan tadi. Jawaban yang dikemukanan bermacam-macam antara lain:

· MonismeI, berpendapat manusia terdiri dari satu asas. Jenis asas bermacam-macam seperti jiwa, materi, atom, dan sebagainya. Hal ini menimbulkan aliran spiritualisme, materialism, romantisme.

· Dualisme, mengajarkan manusia terdiri dari dua asas yang masing-masing tidak hubungannya satu sama lain, seperti jiwa-raga. Antara jiwa dan raga tidak terdapat hubungan.

· Triadisme. Mengajarkan manusia terdiri dari tiga asas seperti badan, jiwa, dan roh.

· Pluralsime, mengajarkan manusia terdiri dari banyak asas seperti api, udara, air, dan tanah.

 

Filsafat dan ilmu mempunyai hubungan erat dengan agama. Keduanya dapat membantu menyampaikan lebih lanjut ajaran agama. Filsafat membantu agama mengartikan teks-teks suci. Filsafat membantu memastikan arti objektif tulisan wahyu. Filsafat menyediakan metode-metode pemikiran untuk teologi. Sebaliknya agama dapat membantu menjawab problem yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu dan filsafat. Meskipun begitu tidak berarti agama adalah di luar rasio, agama adalah tidak rasional. Agama bahkan mendorong manusia mempunyai sikap hidup rasional: bagaimana manusia menjadi dinamis yang senantiasa bergerak tak cepat puas dengan pencapaian yang ada di tangannya, untuk lebih mengerti kebenaran dan lebih mencintai kebaikan.

Di samping agama dan filsafat, sains adalah bentuk pengetahuan yang gigih mencari makna. Mungkin sains tidak banyak menuntaskan misteri kehidupan, seperti misteri asal-usul kehidupan dan misteri kematian. Langkah-langkah memecahkan enigma-enigma seperti itu terlihat berjalan progresif dalam sains. Kesan sains menyaingi agama bahkan menggantikan peran sebagai juru tafsir dunia cukup beralasan. Sains berambisi menjadi sistem pandang dunia menyeluruh dan terjadi dalam scientism. Dalam saintisme kesahihan agama memaknai dunia ditolak. Di tengah-tengah dominasi saintis di abad ke-20 terjadi tren yang sebaliknya: kesahihan sains memaknai dunia juga dipersoalkan.

C. Relasi Filsafat Dan Agama

Menurut Karl Marx agama menjadi candu rakyat sebagai suatu keadaan objektif dalam masyarakat. Adanya agama mencerminkan struktur-struktur sosial tidak sehat dalam masyarakat. Hubungan filsafat dan agama dalam konteks ilmu pengetahuan bisa dibilang mutual nilai-nilai agama kerap kali mengandung banyak informasi untuk berkembangnya filsafat dan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, agama kerap kali dijadikan pedoman hidup seseorang dikehidupan sehari-hari di agamapun banyak sekali pembelajaran yang sebelumnya belum ada di ilmu pengetahuan.

D. FILSAFAT DAN PERKEMBANGAN ILMU KOMUNIKASI

                Komunikasi sebagai praktik sudah ada seiring diciptakannya manusia dalam rangka melakukan aktivitas sosialnya karena manusia tidak mungkin tidak berkomunikasi. Secara Bahasa, kata komunikasi berasal dari Bahasa inggris “communication” yang mempunyai akar kata dari Bahasa Latin “communicare”.

Communicare memiliki 3 kemungkinan arti

1.    To make Common : Membuat sesuatu jadi Umum

2.    Cum+ Munus : Saling memberi sesuatu sebagai hadiah

3.    Cum + Munire  : Membangun pertahanan bersama

Secara istilah terdapat ratusan uraian nyata dan tersembunyi untuk menggambarkan definisi komunikasi. Dalam Oxford English Dictionary yang ditulis tahun 1989 sudah terdapat 12 definisi komunikasi, Diantaranya yaitu :

-       Komunikasi adalah informasi yang disampaikan dari satu tempat ke tempat lain.

-       Kominikasi meliputi semua prosedur dimana pikiran seseorang mempengaruhi oranglain.

-       Pemindahan informasi,ide,emosi,dll menggunakan symbol.

-       Bertrukar ide-ide,pengetahuan, atau informasi baik melalui ucapan,tulisan,atau tanda-tanda.

-       System pertukaran informasi menggunakan symbol yang berlaku umum

-       Proses atau tindakan yang terdiri dari message,sender,reciver, melalui channel dan biasanya mengalami noise. Dalam definisi ini komunikasi haruslah bersifat intentional ( disengaja ) serta membawa perubahan.

Stephan W.Littlejohn (2002:6-7) mengatakan bahwa perbedaan tersebut disebabkan oleh dimensi dasar yang digunakan untuk mendefinisikan komunikasi.

1.    Level Observasi / Tingkat Keabstrakan.

2.    Level Intensionalitas / Kesengajaan.

3.    Dimensi Penilaian Normatif.

Dapat diambil benang merah atau penjelasan dari maksud dimensi komunikasi diatas sebagai berikut:

· Komunikasi merupakan proses dimana individu berhubungan dengan orang lain, kelompok,organisasi  atau masyarakat – merespon dan menciptakan pesan

· Komunikasi merupakan proses pertukaran informasi, biasanya melalui symbol yang berlaku umum, dengan kualitas bervariasi

· Komunikasi terjadi melalui banyak bentuk, mulai dari dua orang yang saling berbicara,isyarat tangan,hingga pada pesan yang dikirim secara global melalui jaringan telekomunikasi.

· Komunikasi adalah proses yang memungkinkan kita untuk berinteraksi/bergaul dengan orang lain. Proses berkomunikasi dalam hal ini bisa melalui ucapan,tulisan,gerak tubuh, dan penyiaran.

Dari benang merah diatas, kita juga bisa mengidentifikasi anatomi komunikasi. Komunikasi memiliki enam unsur yaitu :

1.    Komunikasi melibatkan hubunganseseorang dengan orang lain maupun dengan lingkungannya, baik dalam rangka pengaturan dan kordinasi.

2.    Proses, aktifitas yang bersifat terus menerus. Ketika kita bertemu dengan seseorang kita tidak akan diam saja. Didalamnya kita membuat perencanaan,mengatur nada,menciptakan pesan baru,menginterpretasikan pesan,merespon,atau mengubah posisi tubuh agar terjadi kesesuaian dengan lawan bicara.

3.    Pesan, kombinasi tanda yang bersifat sebagai pemicu bagi penerima tanda. Pesan dapat berupa tanda atau symbol. Ex : ketika seseorang tersenyum berarti ia menandakan bahwa dirinya sedang bahagia

4.    Channel, Saluran tempat pesan dikirim. Channel dapat berupa visual ( dapat dilihat ) atau aural ( dapat didengar)

5.    Noise, berupa gangguan saat pesan disampaikan. Bisa bersifat fisik,psikis, atau semantic ( salah paham )

6.    Perubahan, komunikasi dapat menghasilkan perubahan pada pengetahuan,sikap, atau tindakan orang yang terlibat dalam komunikasi.

Komunikasi sebagai disiplin ilmu baru berkembang pada aba ke-15 ( M. Mufid : 2005 ). Berikut sejarah perkembangan disiplin ilmu komunikasi :

1.                   Masa Awal Pembentukan Disiplin Komunikasi

Teoritasi komunikasi dimulai sejak masa Yunani Kuno. Ketika itu Corax mengajarkan teori berbicara di depan pengadilan, kemudian dianggap cikal bakal keterampilan persuasi (membujuk). Salah satu murid Corax yang terkenal Tisas, yang kemudian mengambil istilah rethoric sebagai nama keterampilan tersebut. Era Tisias diganti dengan Aristoteles (385-322SM) dan gurunya Plato (427-347SM). Keduanya merupakan figur penting dalam mengembangkan disiplin komunikasi. Aristoteles mengatakan komunikasi adalah alat masyarakat berpartisipasi dalam demokrasi. Tujuan komunikasi menurut Aristoteles adalah untuk memberi kesan positif tentang pembicara sehingga pendengar dapat menerima apa yang disampaikan. Lebih jauh Plato mengatakan, keterampilan komunikasi harus mencakup pengatuhan tentang sifat alami dari kata, sifat manusia dan bagaimana manusia memandang hidup, susunan alam, dan studi tentang instrument apa yang dapat mempengaruhi manusia. kedua tokoh tersebut jelas mengajar keterampilan berbicara depan umum.

Perkembangan komunikasi dilanjutkan oleh Cicero (106-43 SM) dan Quintilian (35-95 SM). Cicero melihat komunikasi dalam dua ranah: praktis dan akademis. Karya kedua tokoh ini menjadi inspirasi pembentukan disiplin ilmu komunikasi pada era revolusi industri inggris dan kebudayaan perancis. Masuk abad 18 dimana komunikasi mulai mengenal dasar-dasar komunikasi seperti gaya bicara, pengucapan dan sikap tubuh . Akhir abad 19 kebanyakan perguruan tinggi bagian departemen rethoric and speech di bawah fakultas sastra. Disiplin lain turut membuka studi komunikasi yaitu jurnalisme. Seperti retorika jurnalisme telah dipraktikan sejak 3700 tahun yang lalu di mesir. Julius Cesar mengembangkan pola jurnalisme dengan menjual cikal bakal Koran. Tahun 1960, muncul Koran modern pertama AS dengan nama Public Occurrences both Foreign and Domestic. Fase selanjutnya jurnalisme banyak berkembang di Eropa.

2.    Periode 1900-1930

Periode ini disebut ‘masa perkembangan Speech and journalism’, yaitu masa berkembangnya disiplin komunikasi ditandai dengan dengan berdirinya organisasi dan jurnal komunikasi.

-       (1909) Organisasi komunikasi pertama yaitu The Eastern state speech association ( The Eastern Communication Association ) berdiri di Amerika Serikat.

-       20 Tahun kemudian berdiri organisasi professional komunikasi , perkembangan ini disusul penerbitan jurnal komunikasi pertama yaitu The Quarterly Journal of Speech.

-       (1905) Kursus Jurnalisme di University of Wisconsin

-       (1920-an) Perkembangan Teknologi Radio dan Televisi ( 1940-an )

3. Periode 1930-1950

Periode ini disebut sebagai masa ‘persilangan komunikasi dengan disiplin ilmu lain’. Memang sering kali keduanya tidak terlepas dari persilangan yang terjadi pada era ini adalah persilangan komunikasi dengan disiplin ilmu sosial dan psikologi. Percampuran bidang psikologi dengan penggunaan teori psikologi seperti minat,persuari, sikap dan pengaruh untuk menjelaskan bagaimana dinamika yang terjadi dalam berkomunikasi. Gerakan tubuh atau gesture dijadikan salah satu penjelasan tentang pola komunikasi suatu masyarakat atau disebut dengan komunikasi non verbal (bukan berupa kata atau kalimat).

Pada tahun 1948 Lasswell perkenalkan pola komunikasi meliputi “who says what to whom in what channel with what effect”, atau “siapa berkata apa kepada siapa dengan menggunakan saluran apa serta menimbulkan pengaruh apa”. Pola komunikasi ini difokuskan pada komunikasi verbal satu arah, namun teori tersebut di pandang lebih maju dari pengaruh komunikasi propaganda yang saat itu mendominsi wacana komunikasi, begitupun medium pesan memiliki arti lebih luas yakni media massa. Teori laswell dinilai melampau teori Aristoteles yang dimana berisi definisi tujuan komunikasi sebagai proses membangun citra positif agar ucapan seseorang didengar orang lain, sedangkan lasswell menjelaskan definisi tujuan komunikasi sebagai penciptaan pengaruh pesan yang disampaikan.

Selanjutnya Claude Shannon memunculkan teori baru mengenai pola komunikasi yang merupakan hasil penelitian Shannon di perusahaan Bell Telephone. Teori ini berisi gagasan Shannon weaver pentingnya perluasan komunikasi dari praktik bercakap, menulis, atau melalui media massa. Menurut Shannon weaver komunikasi meliputi aktivitas bermusik,bermain balet, atau pentas teater. Shannon weaver memperkenalkan istilah noise, hal yang menyebabkan penyimpangan dalam penyampaian pesan atau gangguan.

 Berkembangnya komunikasi  kembali muncul teori baru yaitu teori schramm yang menekankan komunikasi sebagai proses untuk membangun kesamaan antara sumber dan penerima pesan. Schramm oleh Alwi Dahlan salah satu pakar komunikasi Universitas Indonesia disebut sebagai salah satu empat bapak kounikasi dunia pada tahun 1954 yang menuliskan artikel berjudul ‘how communication work’. Selanjutnya schramm memperkenalkan konsep field experience merujuk pda kesamaan latar belakang dan pengalaman antara pengirim dan penerima pesan. Karena diperlukn menjelaskan apakah pesan yang dikirim akan diterima dengan baik atau tidak.

Selanjutnya komunikasi berkembang sebagai payung teorinya yang dibagi menjadi empat golongan besar yakni :

1.    Discourse of Representative

Aliran ini menekankan pada keterwakilan yang diwakilkan oleh rumusan X→Y (faktor x mempengaruhi faktor y) seperti contohnya pengaruh menonton tayangan kekerasan terhadap prilaku agresvitas anak SD. Aliran ini juga menekankan keterpisahan antara peneliti dan yang diteliti.

2.    Discourse of Understanding

Aliran yang menekankan pemahaman dengan melakukan interaksi dengan objek penelitian. Aliran yang memakai metode kualitatif ini memperbolehkan adanya interaksi antara peneliti dan yang diteliti.

3.    Discourse of Suspicion

Aliran ini berusaha mendobrak struktur komunikasi dan struktur sosial yang mempengaruhi pola komunikasi suatu masyarakat maka aliran ini disebut aliran Kritis dan aliran Frankfurt karena tumbuh di Frankfurt.

4.    Discourse of Vulnerability

Aliran postmodernism, yang menolak keberadaan struktur sosial dan membuat pola komunikasi dibebaskan dari struktur yang melingkupinya. Proses perkembangan komunikasi pada periode ini mengkuti pola perubahan

-       Perubahan sudut pandang komunikasi. Yang awalnya terfokus pada sumber pesan berubah menjadi pada penerima dan makna pesan.

-       Dari satu arah menjadi bolak- balik dan berputar

-       Dari status menjadi process oriented atau berorientasi pada proses

-       Dari yang pengiriman informasi berubah menjadi penekanan pada interpretasi

-       Dari public speaking menjadi konteks individu, hubungan, organisasi, masyarakat, media.

Beriringan dengan hal tersebut, Littlejohn mengidentifikasi lima kelompok teori komunikasi yang kini tengah berkembang dalam diskursus ilmu komunikas:

1.    Structural and functional theories

teori komunikasi yang dikembangkan dari ilmu sosial. Contohnya seperti teori ini mengatakan bahwa

hubungan personal tersusun sedemikian rupa sebagaimana material bangunan membentuk rumah.

2.    Cognitive and behavioral theories

Teori psikologi yang berfokus pada hubungan cara berpikir dengan tingkah laku.

3.    Interactionist theories

teori yang melihat kehidupan sosial sebagai proses interaksi dengan memakai komunikasi sebagai wadah pembelajaran

4.    Interpretative theories

Mengaitkan suatu tindakan atau teks da dengan pengalaman individu untuk mencari arti.

5.    Critical theories

 teori yang berupaya menelisik kepentingan publik dalam struktur komunikasi yang ada dengan berfokus pada situasi yang timpang dan menindas

Maka dapat kita simpulkan bahwa kelahiran dan perkembangan komunikasi tetap melekat dengan filsafat.

Pertanyaan:

1.)    Di dalam buku dikatakan bahwa filsafat dan ilmu mempunyai hubungan erat dengan agama dan melengkapi satu sama lain, tapi apakah terdapat pertentangan diantara filsafat dengan agama? karena agama itu diwarisi dari pendahulunya sedangkan filsafat didapatkan dari hasil perenungan

2.)    Dalam perkembangan filsafat sains dan agama ikut andil dan memiliki tempatnya masing-masing dan wewenangnya sendiri, hingga menyebabkan perspektif yang berbeda-beda atau sifat tolak belakang antara sains dengan agama. hingga kadang muncul berbagai konflik. Bagaimana cara kita sebaga manusia beragama menyikapi hal tersebut tanpa menutup pemikiran kita mengenai ilmu pengetahuan?

  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KONFIDENSIALITAS DAN KEPENTINGAN UMUM

Respon Paper : Fenomena Konten Prank Berkedok Sedekah dan Pola Konsumsi Media Masyarakat Indonesia

KEBENARAN DALAM ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI