KOMUNIKASI SEBAGAI PROSES SIMBOLIS
Resume buku Etika dan Filsafat Komunikasi Muhammad Mufid,2009
Kelompok 6 Ilkom C
Kioko Vibie Adzira
Nindi Anggita Febriani
Queena Adzikra Arza
Reza Dwi Pangestu
BAB 6
KOMUNIKASI SEBAGAI PROSES SIMBOLIS
A. A. PENGERTIAN SIMBOLIS INTERAKSIONISME
Manusia pada
hakikatnya adalah makhluk yang berin-teraksi, manusia selalu mengadakan
interaksi. Setiap interaksi mutlak membutuhkan sarana tertentu. Sarana menjadi
medium simbolisasi dari apa yang dimaksudkan dalam sebuah interaksi. Oleh sebab
itu, tidaklah jauh dari benar manakala para filsuf merumuskan diri manu-sia
dalam konsep animal simbolicum
(makhluk
simbolis) selain animal sociosus (makhluk berteman, berelasi), dan konsep
tentang manusia lainnya. Teori interaksionisme-simbolis dikembangkan oleh ke
lompok The Chicago School dengan tokoh-tokohnya seperti Goerge Herbert Mead dan
George Herbert Blumer. Blumer dan pengikutnya menghindarkan kuantitatif dan
pendekatan ilmiah dan menekankan riwayat hidup, autobiografi, stu- di kasus,
buku harian, surat, dan nondirective inter-views. Menurut Blumer, teori ini
berpijak pada premis bah-wa (1) manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan
makna yang ada pada “sesuatu” itu bagi mereka; (2) makna tersebut berasal atau
muncul dari “interaksi so-sial seseorang dengan orang lain”; dan (3) makna
terse-but disempurnakan melalui proses penafsiran pada saat “proses interaksi
sosial” berlangsung. “Sesuatu” ini tidak mempunyai makna yang intrinsik. Sebab,
makna yang dikenakan pada sesuatu ini lebih merupakan produk in-teraksi
simbolis. Simbolis interaksionisme dapat didefinisikan sebagai “cara kita
menginterpretasikan dan memberi makna pada lingkungan di sekitar kita melalui
cara kita berinteraksi dengan orang lain”. Teori ini berfokus pada cara orang
berinteraksi melalui simbol yang berupa kata, gerak tubuh, peraturan, dan
peran. Cara terbaik untuk memahami seseorang adalah dengan memperhatikan
lingkungan di sekitarnya, yakni di mana ia tinggal dan dengan siapa ia
berinteraksi.
·
Asumsi
Pokok Simbolis Interaksionisme
Ada sejumlah
asumsi pokok dari teori ini, yakni:
a.
Individu dilahirkan tanpa punya konsep
diri.
b.
Konsep diri terbentuk ketika seseorang
bereaksi terhadap orang lain dan melalui persepsi atas pe-rilaku tersebut.
c.
Konsep diri, setelah mengalami
perubahan, men-jadi motif dasar dari tingkah laku
d.
Manusia adalah makhluk yang unik
karena ke-mampuannya menggunakan dan mengembang-kan simbol untuk keperluan
hidupnya.
e.
Manusia beraksi terhadap segala
sesuatu tergan-tung bagaimana ia mendefinisikan sesuatu tersebut.
f.
Makna merupakan kesepakatan bersama di
ling- kungan sosial sebagai hasil interaksi
B. B. KOMUNIKASI SEBAGAI PROSES INTERAKSI
SIMBOLIS
Komunikasi tidak
bisa dipisahkan dari seluruh proses kehidupan konkret manusiawi. Aktivitas
komunikasi merupakan aktivitas yang manusiawi. Interaksionisme merupakan
pandangan-pandangan terhadap realitas sosial yang muncul pada akhir dekade
1960-an dan awal dekade 1970, tetapi para pakar ber-anggapan bahwa pandangan
tersebut tidak bisa dikatakan baru.
1.)
Aliran Chicago (Chicago School)
George Herbert
Mead, pada umumnya dipandang se bagai pemula utama dari pergerakan, dan
pekerjaann-ya (yang) pasti membentuk inti dari Aliran Chicago. Mead merupakan
pemikir terkemuka, me-nemukan istilah interaksionalisme simbolis, suatu
ung-kapan Mead sendiri tidak pernah menggunakan. Ketiga konsep utama di dalam
teori Mead, menangkap di dalam jabatan pekerjaan terbaik yang di kenalnya,
adalah masyarakat, diri, dan pikiran. Tindakan sosial adalah suatu sumbu konsep
payung yang mana hampir semua psikologis lain dan proses so-sial jatuh.
Tindakan adalah suatu unit yang lengkap me-lakukan itu tidak bisa dianalis ke
dalam spesifik sub bagian. Dalam format paling dasar, suatu tindakan sosial
me-libatkan tiga satuan hubungan bagian, yakni suatu awal mengisyaratkan dari
seseorang, suatu tanggapan untuk isyarat itu oleh yang lain, dan suatu hasil.
2.)
Aliran lowa
Manford
Kuhn dan muridnya, walaupun mereka memelihara dasar prinsip interaksionis,
tidak mengambil dua langkah-langkah baru sebelumnya melihat di teori yang
konservatif. Yang pertama akan membuat konsep diri lebih nyata, yang kedua,
buatan yang anda mungkin pertama, menjadi pengguna dari riset kuwantitatif.
Aliran/mahzab lowa dan Chicago memisahkan perusahaan. Khun membangun suatu
titik ke lakukan yang terbaru! Sebagai hasilnya pekerjaan Khun beralih lebih ke
arah analisa mikroskopis disbanding mengerjakan pendekatan Chicago yang
tradisional. Khun mendiskusikan pentingnya objek di dalam dunia actor.
3.) Kelompok dan Komunikasi Kelompok
Menurut
Onong Uchyana Efendi, kelompok bukan sejumlah orang yang berkelompok atau
berkerumunan bersama-sama disuatu tempat. Apakah sejumlah orang yang secara
bersama-sama berada di suatu tempat itu kelompok atau bukan, harus dilihat dari
situasinya. Beradanya mereka secara bersama-sama adalah kebuetulan saja, karena
tertarik perhatiannya kepada sesuatu. Mereka tidak saling kenal.
Anggota-anggota
kelompok bekerja sama untuk mencapai dua
tujuan, yaitu melaksanakan tugas kelompok, dan memelihara moral anggota-anggotanya.
Tujuan pertama diukur dari hasil kerja kelompok disebut prestasi (Performance) tujuan kedua diketahui
dari tingkat kepuasan (Satisfacation).
Jadi, bila kelompok dimaksudkan untuk saling berbagi informasi (misalnya
kelompok belajar). Lain dengan situasi kelompok (group situation). Dalam situasi kelompok terdapat hubungan
psikologis. Dengan demikian, orang-orang yang terikat oleh hubungan psikologis
itu tidak selalu berada secara bersama-sama di suatu tempat,mereka dapat saja
terpisah, tetapi meski terpisah, tetap terikat oleh hubungan psikologis, yang
menyebabkan mereka berkumpul bersama secara berulang-ulang.
Kelompok
adalah sekumpulan orang yang mempuanya tujuan bersama yang berinteraksi satu
sama lain untuk untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan
memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut. Misalnya,
keluarga,Kelompok diskusi,Kelompok pemecah masalah, atau suatu komite yang
tengah berapat untuk mengambil suatu keputas. Dalam komunikasi kelompok, juga
melibatkan komunikasi antarpribadi.
Michael
Bargoon dan Michael Ruffner (dalam Sasa Djuarsa Sendjaja, ph.D. 2002: 3.1)
memberi batasan komunikasi kelompok sebagai interaksi tatap muka dari tiga atau
lebih individu guna memperoleh maksud atau tujuan yang dikehendaki, seperti
berbagi informasi, pemeliharan diri, atau pemecahan masalah sehingga semua
anggota dapat menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lainnya dengan akurat.
Ada empat elemen yang tercakup dalam definisi di atas, yaitu :
·
Interaksi tatap muka
·
Jumlah partisipan
·
Maksdu dan tujuan
·
Kemampuan anggota untuk dapat
menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lainnya.
Komunikasi
kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu
kelompok “kecil”, seperti dalam rapat,pertemuan,konferensi, dan sebagainya.
Jalaludin Rakhmat (2001:139), membedakan kelompok ini berdasarkan
karakteristik komunikasinya, sebagai berikut :
a.
Kualitas Komunikasi pada kelompok
primer bersifat dalam dan meluas.
b.
Komunikasi pada kelompok primer
bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
c.
Komunikasi kelompok primer lebih
menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok primer adalah
sebaliknya.
d.
Komunikasi kelompok primer cenderung
ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.
e.
Komunikasi kelompok primer cenderung
informal, sedangkan kelompok sekunder formal.
Onong,
selanjutnya membagi kelompok menjadi dua jenis, yakni kelompok kecil (small group, micro group) dan kelompok
besar (Large group, macro group).
C.
ISTILAH POKOK TEORI SIMBOLIS INTERAKSIONALISME
1.
Identitas ( Indentitas )
Bagaimana kita
memaknai diri kita itulah proses pembentukan identitas, yang kemudian
disinergikan dengan lingkungan sosial.
2.
Language ( Bahasa )
Sistem simbol
yang digunakan bersama diantara anggota kelompok sosial. Bahasa memiliki empat
komponen, yakni subjek,objek,symbol, dan referen. Simbol adalah rangkaian bunyi
yang menunjuk sesuatu. Subjek adalah pengguna dari simbol. Objek adalah sesuatu
yang ditunjuk oleh simbol. Referen adalah penghubung dari simbol,subjek, dan
objek.
3. Looking glass self (cara melihat diri),
sebuah gambaran mental sebagai hasil dari
mengambil peran orang lain. Memosisikan diri pada posisi orang lain seperti
atasan atau orangtua sehingga bisa memperoleh gambaran tentang apa yang orang
lain nilai tentang diri kita.
4. Meaning (makna), yakni tujuan dan
atribut bagi sesuatu. Meaning ditentukan
dengan bagaimana kita merespon dan menggunakannya.
5. Mind (pikiran), proses mental terdiri
dari self, interaksi, dan refleksi,
berdasarkan simbol sosial yang didapat.
6. Role taking (bermain peran), kemampuan
melihat diri seseorang sebagai objek, sehingga diperoleh gambaran bagaimana dia
melihat orang lain. Ketika bermain peran dengan memerankan lawan bicara maka
akan memperoleh gambaran seperti apa
perlakuan yang diharapkan lawan bicara.
7. Self-concept (konsep diri), gambaran
yang kita punya tentang siapa dan bagaimana diri kita yang dibentuk sejak kecil
melalui interaksi dengan orang lain. Konsep diri bukan sesuatu yang tetap. Jika
seseorang dicap bodoh maka konsep dirinya akan berkembang seperti itu
sebaliknya jika dicap pintar maka konsep dirinya akan berubah.
8. Self-fulfilling prophecy (harapan untuk
pemenuhan diri), tendensi bagi ekspektasi memunculkan respon bagi orang lain
yang diantisipasi oleh kita. Kita memberi pengaruh bagi orang lain dalam hal
bagaimana mereka melihat diri mereka.
D. PEMIKIRAN
GEORGE HERBERT MEAD
Mead dianggap sebagai bapak
interaksionisme simbolis, karena pemikirannya yang luar biasa. Pemikiran Mead
terangkum dalam konsep poko mengenai “mind”,
“self” dan “society”. Ia mengatakan pikiran manusia mengartikan dan menafsirkan
benda-benda dan peristiwa yang dialaminya, menerangkan asal muasalnya dan
meramalkannya. Pikiran manusia menerobos dunia luar, seolah-olah mengenalnya
dari balik penampilannya. Self yakni
menerobos dan membuat hidupnya sendiri menjadi
objek pengenalannya. Self dikatakan
memiliki ciri-ciri dan status tertentu. Cara manusia mengartikan dunia dan
dirinya berkaitan erat dengan masyarakat. Mead melihat pikiran dan diri menjadi
bagian perilaku manusia yaitu interaksi dengan orang lain. Interaksi membuat
mengenal dunia dan diri sendiri. Mead mengatakan, pikran (mind) dan diri (self)
bersal dari masyarakat (society) atau
aksi sosial (social act).
Berpikir adalah hasil internalisasi
proses interaksi dengan orang lain. Tidak seperti reaksi binatang yang bersifat
naruliah dan lansung, perilaku manusia diawali proses pengertian dan
penafsiran. Konsep role taking (pengambilan
peran) amat penting. Hanya menyerasikan diri dengan harapan-harapan orang lain,
maka interkasi menjadi mungkin. Semakin mampu seseorang mengambil alih atau
membatinkan peran-peran sosial, semakin terbentuk identitas atau kediriannya.
Diakhir proses orang bersangkutan memiliki gambaran tentang generalized others atau gambaran orang
lain yang dikumpulkan dalam diri. Dalam diri seseorang tidak lagi hanya
gambaran dirinya sendiri tetapi kumpulan dari orang lain seperti ulama, polisi dan
orang lain yang sudah melakukan interaksi denganya.
Ketiga konsepsi mind, self dan society tidak
terlepas dari disiplin psikologi sosial. Psikologi sosial adalah “studi yang
mempelajari aktivitas atau tingkah laku dari individu dalam kaitannya dengan masyarakat”.
Tingkah laku sosial dapat dipahami
melalui tingkah laku sosial secara keseluruhan dimana masuk kedalam anggota
kelompok tersebut. Psikologi sosial menurut Mead adalah tingkah laku kelompok
sosial yang kemudian membentuk tingkah laku individu, paling tidak dalam bentuk
pola komunikasi. Mead berargumentasi, tidak ada individu yang bisa memisahkan
diri dari kelompok sosialnya. Jika terpisah, tidak ada kesadaran tentang diri,
dan karenanya tidak ada komunikasi.
Masyarakat harus dipahami sebagai struktur
sosial yang selalu berproses melalui tindakan komunikasi, secara mutual berorientasi pada pemenuhan
kebutuhan masing-masing. Mead melihat gesture
sebagai bagian mekanisme yang dibentuk oleh struktur. Ia membedakan antar nonsignificant gesture dan significant gesture. Pertama tingkah
laku hewan yang tidak terstruktur dan kedua karakteristik manusia hasil dari
konstruksi soial. Yang membedakan manusia dengan hewan adalah kemampuan manusia
menggunakan dan menggembangkan bahasa. Asumsi Mead, apabila seseorang memiliki
kesamaan respon dengan yang lain tentang suatu simbol, saat itulah sudah
terjadi pertukaran makna. Simbol tidak lagi menjadi hal bersifat privat, dan
ketika itulah terjadi bahasa.
1.
Konsep Mead tentang
“Mind”
“Mind”
didefinisikan sebagai fenomena sosial yang tubuh dan berekembang dalam proses
sosial dari hasil interaksi, Mind mirip dengan simbol, sebagai hasil
dari interaksi sosial. Mind terbentuk
setelah terjadinya percakapan diri (self
–conversation), yaitu ketika seseorang melakukan percakapan diri yang
disebut sebagai berpikir. Berpikir tidak mungkin terjadi jika tidak menggunakan
bahasa. Konsepsi “mind” lebih pada proses sebuah produk. Hal ini menandakan
bahwa kesadaran bukan hasil tangkapan dari luar, melainkan secara aktif selalu
berubah dan berkembang. Mead mengatakan, “consciousness
(mind) is not given, it is emergent”, kesadaran tidak dikasih, tapi
dicari.
Mead mengelaborasi relasi bahasa dan mind. Menurutnya mind membantu bahasa meningkatkan kapasitas:
·
Menentukan objek dalam lingkung sosial, melalui
pembentukan simbol yang signifikan.
·
Menggunakan simbol sebagai stimulus untuk menghasilkan
respon dari orang lain.
·
Membaca dan menginterpretasikan gesture orang lain, menggunakan stimulus sebagai respon.
·
Menyediakan imajinasi alternatif dari stimulus dan
respon dari lingkungan.
2.
Konsep Mead tentang
“Self”
Self adalah proses yang tumbuh dalam keseharian sosial yang
membentuk identitas diri. Perkembangan self
tergantung pada bagaimana seseorang melakukan role taking (pengambilan peran) orang lain. Role taking mengimajinasi tingkah
diri dari sudut pandang orang lain. Esensi self adalah reflexivity,
yaitu bagaimana merenung ulang relasi dengan orang lain, kemudian memunculkan
adopsi nilai dari orang lain. Terdapat dua segi self, masing-masing melakukan fungsi penting di kehidupan manusia,
yaitu “I” dan “me”. “I” diterjemahkan “aku” merupakan bagian unik , impulsif,
spontan, tidak terorganisasi, tidak bertujuan, dan tidak dapat diramal dari
seseorang. “me” diterjemahkan “daku”
adalah generalized others¸ ,merupakan
fungsi bimbingan dan panduan. Me adalah
prilaku yang secara sosial diterima dan diadaptasi.
“I” maupun “me”
diperlukan dalam hubungan sosial. “I” adalah rumusan subjektif tentang diri
ketika berhadapan dengan orang lain. “me” adalah serapan dari orang lain,
melalui proses internalisasi kemudian diadopsi untuk membentuk “I” selanjutnya.
Dengan demikian dalam setiap interaksi akan terjadi perubahan “I” dan “me”
secara dinamis. Dalam konteks komunikasi, perubahan tersebut meninbulkan optimisme,
yaitu bagaimanapun komunikasi akan menimbulkan perubahan. Besar kecilnya
perubahan dan seperti apa perubahan yang diinginkan tergantung pada strategi
dan efektivitas komunikasi yang dilakukan.
3. Konsep Mead tentang “Society”
Kumpulan self yang melakukan interaksi
dalam lingkungan yang lebih luas yang berupa hubungan personal, kelompok intim,
dan komunitas itu merupakan definisi dari “society” menurut Mead.
E. PEMIKIRAN GEORGE HERBERT BLUMER
Pemikiran Blumer tentang teori
interaksionisme simbiolis lebih banyak merupakan penuangan ide Mead. Ada tiga
dasar pemikiran Blumer saat memikirkan tentang teori ini ialah :
·
Manusia
berperilaku terhadap hal-hal berdasarkan makna yang dimiliki hal-hal tersebut
baginya.
·
Makna hal-hal
tersebut berasal dari atau muncul dari interaksi sosial yang pernah dilakukan
dengan orang lain
·
Makna-makna itu
dikelola dalam dan diubah melalui proses penafsiran yang dipergunakan oleh
orang yang berkaitan dengan hal-hal yang dijumpai
1. konsepsi Blumer tentang “meaning”, “leanguage”,
dan “society”
Meaning adalah dasar bagi kita untuk bertindak
terhadap segala sesuatu.
Language makna yang tumbuh dalam interaksi
sosial menggunakan bahasa.
Thorught interpretasi individu atau simbol
yang dimodifikasi melalui proses berpikir seseorang.
2. konsep
pokok blumer tentang teori simbolis interaksionisme.
·
Konsep diri
Manusia
bukan semata-mata organisme yang bergerak di bawah pengaruh
perangsang-perangsang, baik dari dalam maupun dari luar, melainkan organisme
yang sadar akan dirinya. Antara perangsang dengan perilakunya tersisiplah
proses interaksi dengan diri sendiri, inilah kekhasan manusia.
·
Konsep kegiatan
Perilaku
manusia dibentuk dengan proses interaksi dengan diri sendiri, maka kegiatannya
itu berlainan sama sekali dengan kegiatan makhluk-makhluk lain.
·
Konsep objek
Manusia
hidup di tengah-tengah objek bisa berupa objek bersifat konkrit seperti
kursi,meja, dan sebagainya. Objek juga bisa berupa abstrak di mana kebiasaan
orangnya.
·
Konsep interaksi
sosial
Interaksi
sosial proses hubungan timbal balik yang dilakukan oleh individu dengan
individu lainnyadi mana terjadi proses pemindahan diri pelaku yang terlihat
secara mental ke dalam posisi orang lain. Mereka mencoba untuk mencari makna
dari suatu peristiwa.
·
Konsep aksi
bersama
Hakikat masyarakat,kelompok, atau organisasi tidak harus dicari dalam struktur relasi-relasi yang tetap, melainkan dalam proses aksi yang sedang berlangsung.
Pertanyaan
1. 1. Pada asumsi mead tentang bahasa mengatakan. Simbol
tidak lagi menjadi sesuatu yang bersifat privat, dan ketika itulah terjadi
bahasa. Apakah yang dimaksud simbol tidak menjadi bersifat privat?
2. 2. Dikatakan bahwa Individu dilahirkan tanpa punya konsep diri dan Konsep diri terbentuk ketika seseorang bereaksi terhadap orang lain dan melalui persepsi atas perilaku tersebut. Yang artinya konsep diri mulai terbentuk dalam awal masa kanak-kanak yang pertama kali dibentuk oleh orang tuanya. Maka apakah jika pada proses pembentukan konsep diri yang dilakukan oleh orang tuanya bersifat negatif, apa nantinya sang anak akan memiliki pengetahuan dan evaluasi terhadap dirinya sendiri juga akan menjadi negatif? apa dapat berubah?
Komentar
Posting Komentar