KEPENTINGAN, TEKANAN EKONOMI, DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL
Resume buku Etika dan Filsafat Komunikasi Muhammad Mufid,2009
Kelompok 6
Ilkom C
Kioko
Vibie Adzira
Nindi
Anggita Febriani
Queena
Adzikra Arza
Reza Dwi
Pangestu
BAB 10
KEPENTINGAN, TEKANAN EKONOMI, DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL
A.
A A. TEKANAN EKONOMI DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL
Dalam berkomunikasi ada tanggung jawab sosial yang
dipengaruhi oleh tekanan ekonomi. Dan kadang tanggung jawab sosial tersebut
sering dikalahkan oleh kepentingan ekonomi. Dalam komunikasi massa, tekanan
ekonomi berasal dari tiga sumber, yaitu:
1.
Pendukung finansial; investor, pemilik,
pemasang ik-lan, dan pelanggan.
2.
Para pesaing.
3.
Masyarakat/publik secara umum.
Pertumbuhan
pasar yang semakin bersaing membuat institusi media menjadi ekspansi bisnis
para pengusaha, sehingga banyak keputusan-keputusan yang diambil berdasarkan
keuntungan komersil belaka. Pemasukan yang terbesar bagi institusi media adalah
tayangan yang kreatif dan menarik perhatian para konsumen, untuk merebut hati
pemirsa melalui iklan.
Manajemen
media sudah mulai dirasuki oleh teori-teori marketing yang penuh strategi untuk
meraup keuntungan komersil. Hal ini menyebabkan adanya dilema antara nilai etis
antara tanggung jawab sosial dan tekanan ekonomi yang ada demi kelangsungan
institusi media.
B. B. NEOLIBERALISME SEBAGAI KEKUATAN EKONOMI BARU
Gagasan pokok neoliberalisme adalah menjadikan
ekonomi sebagai kunci untuk memahami dan mendekati berbagai masalah,
penggusuran arena hidup sosial menjadi urusan individu, dan pemindahan regulasi
dari arena sosial ke urusan personal. Dalam gagasan neoliberalisme, cara-cara
kita bertransaksi dalam kegiatan ekonomi adalah
satu-satunya model yang mendasari semua tindakan dan relasi antar
manusia, baik itu persahabatan, keluarga, hukum, tatanegara, maupun hubungan
internasional.
Jika liberlisme klasik menuntut pemerintah
untuk menghormati kinerja pasar sebagai salah satu cara jitu kehidupan ekonomi,
neoliberalisme menuntut kinerja pasar bebas sebagai satu-satunya tolok-ukur
untuk menilai berhasil tidaknya semua kebijakan pemerintah. Neoliberalisme
mengidealkan internasionalisasi kekuatan pasar menyatalam bahwa bukan hanya
mekanisme pasar yang harus dipakai untuk mengatur ekonomi sebuah negara, tapi
juga dipakai untuk mengatur ekonomi global.
Kebijakan-kebijakan neoliberal berusaha
memangkas atau bahkan menghabisi peran pemerintah dalam pengelolaan ekonomi
sampai tahap di mana otoritas legitim pemerintah untuk mengelola suatu negara
habis. Negara dalam perspektif neoliberal tidak hanya diharuskan untuk
mempertahankan peran tradisionalnya sebagai penjamin kebebasan ekonomi, tapi
juga berkewajiban untuk mengembangkan teknik-teknik mengontrol warga, tanpa
negara harus bertanggung jawab terhadap mereka. Karena dalam neoliberalisme
masyarakat merupakan kerumunan para wirausahawan/ti yang otonom.
Gelombang neoliberalisasi yang ditandai dengan
upaya penghapusan regulasi negara atas industri media, walaupun dari satu sisi
memang telah membebaskan media dari kontrol negara, namun pada sisi lain akan
memperbesar kerentanan media terhadap represi rejim kapital, yang mengarah pada
suatu kediktatoran pasar. Penganjur perspektif ekonomi politik liberal di
berbagai komunitas akademis juga meyakini proposisi bahwa liberalisasi atau
deregulasi industri media di tanah air akan menciptakan suatu ‘free market place of ideas’ dimana pasar identik dengan
publik.
C. TANGGUNG JAWAB SOSIAL
Dalam
filsafat, tanggung jawab ialah kemampuan manusia untuk menyadari bahwa seluruh
perbuatan yang dilakukan selalu beriringan dengan adanya konsekuensi. Tanggung
jawab merupakan restriksi (pembatasan) dari kebebasan yang dimiliki oleh
manusia, tanpa mengurangi kebebasan itu sendiri. Dan norma untuk mengelola
kebebasan itu adalah tanggung jawab sosial. Kodratnya manusia sebagai makhluk
sosial maka dar itu demi kebaikan bersama, maka pelaksanaan kebebasan manusia
harus memperhatikan kelompok sosial di mana ia berada.
Kelompok
sosial adalah kelompok kehidupan bersama manusia dalam himpunan atau
kesatuan-kesatuan manusia yang umumnya secara fisik relatif kecil yang hidup
secara guyub. Beberapa kelompok sosial dibentuk secara formal dan memiliki
berbagai peraturan yang jelas. Di dalam kelompok, setiap anggota berkomunikasi,
berinteraksi, saling pengaruh mempengaruhi satu dengan lainnya. Dengan begitu
dapat menghasilkan kebiasaan-kebiasaan yang melembaga bagi setiap anggota
kelompok, kebiasaan itu menciptakan suatu pola perilaku yang dilakukan secara
terus-menerus. Berger dan lukcman mengatakan sebagai proses konstruksi sosial
yang terjadi secara simultan dalam tiga proses, yakni eksternalisasi,
objektivitas, dan internalisasi. Sehingga tahap beikutnya individu akan menginternalisasikan
semua sikap dan perilaku yang diperbolehkan dari kelompoknya dalam kehidupan
pribadinya.
D. Isu ekonomi dalam media massa
Ekonomi
sebagai ilmu atau kajian yang menelaah kekuatan atau kemampuan yang
mengalokasikan sumber untuk memenuhi kebutuhan yang dipersaingkan. Dalam
perkembangan media masa, yang turut juga dipengaruhi oleh masalah produksi dan
distribusikan masal. Ketika produksi
semakin besar diharapkan juga perkembangan pembeli dan cakupan daerah yang
dapat membelinya. Media masa juga tidak dapat dipisahkan dengan hukum
persaingan karena industri media masa yang didirikan tidak lagi sebagai pemain
tunggal. Dalam iklim ekonomi, tidak menutup kemungkinan terjadinya monopoli. Atmosfir
monopoli ini bisa terjadi karena sistem persaingan yang keras sehingga
diperlukan pemain ekonomi yang kuat. Masalah kepemilikan media masa yang justru
melemahkan peran dan fungsi sosial media masa, dalam hal ini melemahkan proses
diversitas informasi yang diperlukan oleh masyarakat. Dengan segenap
keuntungan, tampaknya wajar bila media kemudian tidak bisa menghindarkan dari
lokus ekonomi sebagai titik tolak operasionalnya.
E. ISU MORAL VERSUS KEPENTINGAN EKONOMI
Perkembangan
media semakin pesat saat terjadi perubahan dramatis dalam teknologi komunikasi.
Konsekuensi logis dari usaha untuk mengembangkan madia adalah kebutuhan modal
atau kapital yang lebih besar. Komplektsitas industri komunikasi massa
merupakan sesuatu yang tidak terelakkan; tidak bisa menghindari konsolidasi dan
proses konsentrasi yang mau tidak mau dilakukan setiap pelaku komunikasi massa
untuk bisa berproses sebagai sebuah industri sosial dan ekonomi.
Tekanan
eknomi menjadi alasan utama semua orang bebas melakukan sesuatu. Terlepas dari
sebuah institusi media yang pada awalnya
menyampaikan informasi dengan benar dan akurat tanpa pengaruh serta tekanan
oleh siapapun. Melainkan media saat ini dijadikan sarana para pengusaha
memperluas jangkauan pasar dengan membentuk opini publik, mengangkat citra
perusahaan, menghadirkan kasus guna menjatuhkan pesaing.
Semua
tayangan media dijadikan pasar untuk memperlihatkan produk pemasang iklan atau
sponsor yang menyebabkan penonton menjadi konsumtif. Lain dengan tayangan yang
memperoleh rating tinggi, tayangan
tersebut menyebabkan munculnya perilaku antisosial serta bertentangan dengan
nilai etis yang ada. Ketika dilema antara rasa tanggung jawab sosial muncul
dengan tekanan ekonomi baik itu kepentingan pribadi maupun perusahaan. Maka
nilai etis akan luntur sendirinya dengan kekuasaan tekanan ekonomi. Media
merupakan sesuatu yang unik karena bisnis mengambil keuntungan dari pemasang
iklan. Produk media seperti berita informasi, dan hiburan telah memberikan output
yang berbeda dengan industri lain.
Dalam
konteks ekonomi-politik media, terdapat tiga tolak ukur sistem sosial politik
demokratis. Pertama, peniadaan
ketimpangan sosial dalam masyarakat. Ketimpangan kepemilikan dan kekayaan
menghambat partisipasi anggota masyarakat ke dalam sistem politik yang ada. Kedua, Pembentukan kesadaran (shared consciousness) mengenai
pentingnya mengutamakan kepentingan bersama (public interest) di atas kepentingan pribadi. Setiap orang sadar
kesejahteraan diri bergantung pada sejauh mana tingkat kesejahteraan sosial
yang ada dalam masyarakat. Tanpa kesadaran keutamaan bersama, maka budaya
politik demokratis kehilangan substansinya.
Ketiga, demokrasi membutuhkan sistem
komunikasi efektif. Warga negara mempunyai keterlibatan penuh dan partisipasi
tinggi dalam pembetukan kebijakan yang menyangkut kepentingan umum. Komunikasi
efektif menjadi penting ketika sistem sosial dan politik bertambah kompleks.
Tanpa ini, mekanisme kerja sistem politik dan demokarasi terhambat. Situasi ini
seperti ini diskursus kebebasan media menjadi bagian signifikan dan esensial
dalam pembentukan wacana serta pelaksanaan demokrasi. Antony Sampson (dalam
McNair, 2000, h. 1) menyatakan, kematangan demokrasi tergantung pada sejauh
mana informasi terdistribusi, “ a mature
democracy depends on having an educated electrorate, informed and connected
trough parliament”.
Term
demokrasi dapat diartikan suatu sistem sosial-politik yang memberikan jaminan
penuh pada kebebasan individu. Kebebasan tersebut akan berarti jika setiap
individu dapat memperoleh informasi yang cukup serta memiliki keterlibatan dan
partisipasi politik yang tinggi. Sebaliknya, ketiadaan informasi dan
tertutupnya ruang politik bagi masyarakat akan mempersulit warga mempersoalkan proses alokasi kekuasaan
dan sumber daya. Hubungan timbal balik, demokratisasi media dalam pengertian ‘pemberian power’ jurnalis media bekerja
sesuai profesi dan etika jurnalis lalu pendiadaan faktor hegemonik dan
intervensi, di mana mendorong perkembangan iklim demokrasi.
Bagi
Mosco (1996: 30) ada tiga entry konsep
dalam ekonomi-politik media. Pertama Commodification,
proses pengambilan barang/jasa yang bernilai pemakaiannya dan mengubahnya
dengan komoditi yang bernilai dengan apa yang dapat dihasilkan pasar. Bentuk
Komodifikasi ada empat, diantaranya:
1. Komodifikasi isi, proses mengubah pesan dan kumpulan
data ke dalam sistem makna sehingga menjadi produk yang dapat dipasarkan.
2. Komoditi Khalayak, proses media menghasilkan khalayak
untuk kemudian ‘menyerahkannya’ pada pengiklan. Program media digunakan guna
mencari khalayak, kemudian gilirannya perusahaan yang hendak mengakses khalayak
menyerahkan kompensasi material tertentu pada media.
3. Komoditi cybernetics,
terbagi atas intrinsic
commodification dan extensive
commodification. Yang pertama, media mempertukarkan rating, yang kedua komodifikasi menjangkau seluruh kelembagaan
sosial sehingga akses hanya di miliki media.
4. Komodifikasi tenaga kerja dengan menggunakan teknologi
untuk memperluas proses dalam rangka penghasilan komoditas barang dan jasa.
Spatialization,
proses mengatasi perbedaan ruang dan waktu
di kehidupan sosial. Elaborasi Mosco terkait spasialisasi menyangkut isu
integrasi, dimana integrasi dibagi dua yaitu vetikal dan horizontal.
Structuration, menyatukan gagasan dan agensi, prosesm dan praksis
sosial dalam alisis structural. Mosco banyak menyerap gagasan Golding dan
Murdock tentang interplay antara
struktur vis-à-vis agensi.
Karakteristik penting teori ini yaitu kekuatan yang diberikan pada perubahan
sosial. proses perubahan sosial merupakan proses yang menggambarkan sebuah
struktur diproduksi oleh agen yang bertindak melalui medium struktur.
Strukturasi menyeimbangkan kecendrungan dalam analisis ekonomi-politik dalam
menggambarkan struktur dengan menunjukan dan menggambarkan ide-ide agensi,
hubungan sosial dan proses praktek sosial. walau faktor paling berpengaruh
dalam analisis ekonomi-politik adalah institusi media dan konteksnya, konsep
Mosco dipandang cocok dalam menganalisis jumlah rentang aktivitas media, mulai
dari produksi sampai perkara resepsi dalam suatu kesatuan model.
Sedang Golding dan Murdock (dalam Barret,
1995, h.187, mengajukan mapping
hubungan media dan kekuatan ekonomi-politk menjadi empat diantaranya,
perkembangan media, perluasan jangkauan korporasi, komodifikasi, dan perubahan
peran intervensi negara dan pemerintah. Konsentrasi kontrol dan pengaruh
industri media ke dalam beberapa perusahaan, karenanya, lebih merupakan akibat
tiga proses yang saling terhubung, yaitu integrasi, diversifikasi, dan
internasionalisasi.
Keduanya menjelaskan bahwa teradapat dua
macam integrasi, vertikal (suatu perusahaan melakukan perluasan dalam satu
level unit produksi) dan horizontal (sautu perusahaan melakukan perluasan dalam
level unit yang berbeda). Kedua intergrasi tersebut terjadi melalui proses merger atau take-over. Integrasi horizontal memungkinkan perusahaan melakukan
konsolidasi sekaligus memperluas kontrol melalui maksimalisasi skala resources ekonomi.
Integrasi vertikal terjadi saat suatu
perusahaan berminat untuk beroperasi dalam stage
lain produksi, seperti penyediaan bahan material, perlengkapan, dan
distribusi. Di sisi lain, diversifikasi memungkinkan perusahaan melindungi diri
dari efek resesi pada bagian tertentu.
Golding dan Murdock melihat bahwa telah
terjadi industrialisasi media ditandai dengan perubahan bentuk pemisahan menuju
pemusatan. Terdapat empat siklus.
1. Siklus pertama, meliputi produksi media skala
kecil/pribadi dari perluasan produk budaya. Distribusi dan penjualan mulai
dipisahkan dan dikomersialisasikan.
2. Siklus kedua, masuknya teknologi baru ke dalam
industri media , industrialisasi terjadi dalam proses produksi maupun
distribusi.
3. Siklus ketiga, saat masa industri mengalami masa
kejenuhan karena tekanan berturut-turut, seperti naiknya harga, penerunan pendapatan,
perubahan pola permintaan yang menyebabkan muncul pemusatan-pemusatan industri.
4. Siklus keempat, perkembangan dari ketegangan antara
kemampuan teknologi baru di satu sisi dam perhatian di bidang ekonomi di sisi
lain secara dialektis.
Sebagai capitalist venture, media massa beroprasi dalam struktur industri
kapitalis yang tidak selalu memfasilitasi, juga mengekang. Smythe membuat
metafora “… fungsi utama media adalah menciptakan kestabilan segmen khalayak,
bagi monopoli pengiklan kapitalis”.
Symthe membagi tiga hal yang menjadi
patokan mengidentifikasi karakteristik suatu industri media. Pertama, customer requirements, merujuk pada
harapan konsumen mengenai produk yang mencakup aspek kualitas, diversifitas,
dan ketersediaan. Kedua, competitive
enviorment, lingkungan pesaing yang dihadapi perusahaan. Ketiga, social expectation, berhubungan dengan
tingkat harapan masyarakat terhadap keberadaan industri.
Persoalan modus komersialisasi industri
media massa menggandung berbagai kelemahan, bahkan bisa jadi kontra-produktif
bagi kapitalis. Kelemahan diantaranya adalah.
Pertama, kapitalis media telah maksimal
mengurangi resiko usaha. Sebagian besar pasar yang ada cenderung membentuk
kekuatan oligopolisitk, di mana beberapa industri media menciptakan hambatan
yang menutup peluang pendatang baru. Dari sisi penekanan harga, produksi, dan
keuntungan kekuatan oligopolisitk yang ada justru menagrah pada pembentukan
monopoli.
Kedua, industri media lebih berorientasi
pada pemenuhan keingan market sesuai
dengan kriteria apa yang paling secara ekonomi dan politik bagi para pemilik
modal. Pasar tidak akan mengatasi konsekuensi-konsekuensi setiap paket
produksi. Tidak dapat diabaikan banyak produk media yang positif, namun banyak
pula produk media bersifat dangkal dan tidak sesuai dengan konteks budaya.
Dengan menggunakan proposisi yang
demikian, dapat dikatakan bahwa dalam konteks kapitalisme, jurnalis dan produk
media merupakan ‘alat produksi ‘. Hidayat menegaskan bahwa memang teks isi
media berisi serta tindakan jurnalis dalam memproduksi media tidak lepas dari
konteks proses-proses sosial memproduksi dan mengonsumsi media, baik jenjang
organisas, industri dan masyarakat. (Hidayat, 2000: 431).
Ekonomi-politik media massa melihat media
dalam keterpengaruhannya dengan ekonomi. Kunci untuk memahami monopoli
kapitalisme atas media adalah dengan melihat secara politis dan ideologis
dominasi kapitalisme secara ekonomis atas dunia komunikasi.
F.
PENGARUH IKLAN DALAM PRAKTIK KOMUNIKASI
Iklan
adalah penyokong ekonomi utama untuk meningkatkan kualitas dari fungsi
informasi dan hiburan dari komunikasi massa. Karena dari iklanlah media
mendapatkan sokongan keuangan baik dari sector pemerintah dan politik, dapat
dikatakan media sangat bergantung dengan sector komersil. Berikut tiga area
tekanan ekonomi yang timbul akibat dampak dari pengaruh iklan :
·
Jumlah dari materi komersil yang dapat
menentukan spot bukan pada saat jatah
iklan melainkan untuk berita ataupun hiburan.
·
Pemotongan anggaran untuk iklan dari para
klien yang disebabkan oleh resensi ekonomi
·
Pesan-pesan komersil akan mempengaruhi isi
dari pesan yang bukan komersil dan otomatis juga memberi tekanan kepada para
pemimpin media.
Tujuan
dari iklan adalah untuk mempengaruhi seseorang di dalam suatu lingkungan.
Organisasi media yang masih dalam skala kecil terkadang mengalah terhadao
permintaan pemasang iklan. Pemasang iklan juga dapat menyerang program dengan
iklan-iklan produk mereka dan para pemimpin media tidak dapat menolaknya.
Bahkan kepentingan jurnalis pun kadang-kadang dikorbankan atas nama kenyataan
ekonomi. Sisi positifnya adalah dengan adanya iklan, media tidak tergantung
secara finansial dengan pemerintah.
Tekanan
ekonomi yang timbul dari pengaruh iklan setidaknya dilihat dari tiga cara,
yaitu :
·
Jumlah materi komersil mengurangi spot berita
atau hiburan.
·
Pemotongan/pembatalan anggaran untuk iklan
dari para klien sangat mempengaruhi perekonomian suatu institusi media.
·
Pemasangan iklan dapat langsung bereaksi
bahkan sampai pada penarikan iklan apabila ada sesuatu yang tidak menyenangkan
mereka.
G. DISKUSI KASUS
Alvin Day,
Ethics in Media Communications : Cases
and Countroversies. Wardsworth: 1991, mencontohkan sejumlah kasus sebagai
bagian dari diskusi tentang pertentngan antara tekanan ekonomi versus tanggung
jawab sosial.
Kasus 1 : Koran Lokal dan Perseroan
Acme
industries sendiri merupakan perusahaan manufaktur untuk pesawat terbang dan
bekerja sama dengan departemen pertahanan untuk penngadaan helicopter, tank,
dan perlengkapan perang. Sehingga Acme industries dapat mendukung industry
kecil dan otomatis akan meningkatkan finansial Portsmouth di masa yang akan
datang. Acme industries rutin mengirimkan press
release ke media media dengan menuliskan berita-berita mengenai aktivitas
perusahaan.
The Banner-Herald adalah surat kabar yang menjadi target utama Acme
Industries untuk rencana PR mereka, tentunya iklan tersebut juga akan
menguntungkan the Banner-Herald. Pada
suatu hari ada sebuah reporter yaitu Fred Simons yang menerima berita via
telfon bahwa jatuhnya helicopter militer
buatan Acme Industries telah menewaskan beberapa kru. Helicopter
tersebut dibuat dengan konstruksi yang buruk.
Dengan
beberapa pertimbangan yang berat, insting jurnalistik Hale mengatakan bahwa ini
adalah sesuatu yang penting untuk dimuat. Tetapi Hale juga mengakui bahwa Acme
Industries sangat meningkatkan perekonomian daerah dan dia percaya bahwa
kebenaran di mata masyarakat terkadang sangat selektif.
Ulasan kasus
Ini
merupakan kasus yang kompleks karena banyak kepentingan yang terlibat.
Keputusan Hale untuk memuat berita tersebut sudah tepat karena terjadi
pemberitaan berimbang dengan mengakui keberadaan Acme untuk kelangsungan
ekonomi Portsmouth dan Banner-Herald
dan juga mengangkat masalah yang terjadi.
Kasus 2: Bioskop X-Rated dan Tekanan
masyarakat
Menurut
Kelompok Masyarakat Peduli Moral dan Susila (KPMS) munculnya bioskop X-Rated
dan toko-toko yang menjual buku dewasa sebagai faktor utama meningkatnya angka
kriminalitas, kekerasan, perkosaan, dan pelecehan seksual. Kelompok Masyarakat
Peduli Moral dan Susila (KPMS) yang diketuai oleh Elsie Johnson menemui Walter
Byers, seorang manajer periklanan di surat kabar Pleasantville Beacon. Johnson mengutarakan maksudnya untuk menolak
dan mencopot iklan dua bioskop porno yang ada di Pleasantville Beacon karena iklan tersebut secara tidak langsung
memberika keuntungan kepada bioskop
tersebut.
Jika
permohonan ini tidak dipenuhi, maka (KPMS) akan memboikot para klien Beacon
untuk mencabut semua iklan mereka. Byers berjanji akan mempertimbangkan
permintaan beliau. Pertimbangan Byers adalah :
1.
Boikot terhadap media kebanyakan tidak
berhasil.
2.
Dampak secara finansial tidak terlalu
signifikan jika iklan bioskop di turunkan.
3.
Tetapi, jika tidak diturunkan akan berdampak
pada reputasi Beacon.
4.
Tidak adanya korelasi langsung antara toko
buku dewasa dengan kejahatan seksual, karena toko buku tersebut ada sebelum
peningkatan kejahatan.
Pada kedua kasus tersebut, Alvin Day hendak menunjukan betapa relasi ekonomi dan etika komunikasi sangat rumit. Tekanan ekonomi yang begitu kuat meski di imbangi dengan keteguhan sikap untuk mengedepankan aspek yang lebih luhur, yakni etika.
Pertanyaan :
perkembangan teknologi yang semakin canggih
membuat masayarakat indonesia mulai bersikap individualism, apakah ini menandakan
bahwa seiring perkembangangan zaman, sifat naluri berkelompok manusia dapat
berkurang?
Komentar
Posting Komentar