STREOTIP DALAM ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI
Resume buku Etika dan Filsafat Komunikasi Muhammad Mufid,2009
Kelompok 6 Ilkom C :
Kioko
Vibie Adzira
Nindi
Anggita Febriani
Queena
Adzikra Arza
Reza
Dwi Pangestu
BAB 12
STREOTIP DALAM ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI
A. PENGERTIAN STEREOTIP
Orang Jawa dikenal dengan orang yang halus. Orang Batak
digambarkan seorang yang pekerja keras. Orang Sumbawa diidentikan dengan pola
hidup konsumtif. Etnis Bima mempunyai mental perantau sehingga cendrung mencari
teman atau keluarga yang satu etnis di tempat baru. Suku Sasak dikenal dengan
gemar meminum kopi. Hal ini memberikan gambaran bahwa manusia menilai orang
lain yang bukan bagian dari komunitasnya secara sadar atau tidak seringkali
terjebak dalam stereotype dan overgeneralisasi.
Citra kesukuan
seringkali menyebabkan keliruan pemahaman dalam komunikasi. Indonesia sendiri
banyak ditemukan anekdot-anekdot serta sindiran-sindiran yang berhubungan
dengan adat istiadat, perilaku, gaya hidup, dan cara komunikasi etnis tertentu.
Hal ini membawa seorang terjebak dalam stereotip, overgeneralisasi, serta
prasangka budaya, dimana menghambat komunikasi dan bisa membawa konsekuensi
yang lebih parah, seperti ketersinggungan.
Orang tidak mudah begitu saja menerima budaya atau gaya hidupnya
dikatakan tidak santun atau kurang patut. Seringkali orang memberikan penilaian
yang salah mengenai orang lain. Padahal dalam memberikan penilaian seringkali
melibatkan kesan, pesan, dan intuisi
subyektifitas semata. Penilaian seringkali hanya memakai kacamata budaya atau
perilaku sendiri untuk mengukur serta menilai budaya atau perilaku orang lain.
Perbedaan cara
memahami komunikasi baik itu verbal maupun non verbal dapat menyebabkan
kesalahpahaman dalam komunikasi lintas budaya. Sehingga tidak jarang pendapat
atau opini seseorang terhadap sebuah budaya atau komunitas tertentu
menjadi suatu identitas yang
mengakibatkan terjadinya stereotip. Sehingga stereotip adalah sebuah cara pandang terhap sebuah kelompok dimana
cara pandang tersebut digunakan pada setiap anggota kelompok tersebut. Pembentukan
stereotip sudah terjadi ketika mendapatkan informasi dari pihak kedua atau
media dan seorang cenderung menyesuaikan dengan informasi tersebut dengan
pemikirannya. Stereotip bisa berbentuk positif atau negatif serta bisa salah
atau benar dan stereotip bisa berkaitan dengan individu atau subkelompok.
Contoh stereotip :
-
Orang gemuk biasanya malas dan rakus.
-
Orang arab teroris.
-
Polisi selalu
bisa disogok dengan uang.
Stereotip
digunakan manusia sebagai mekanisme pertahanan diri (self-defense mechanism) untuk menyembunyikan keterbatasan atau
membenarkan perasaan rapuh tentang superioritas. Stereotip dapat membawa
ketidakadilan sosial bagi yang menjadi korban, dimana dapat memunculkan
pertanyaan terkait etnisitas.
B. MENGAPA MUNCUL STEREOTIP?
Terdapat kondisi
dimana stereotip tidak dapat dihindarkan (inevitable),
yaitu :
1.
Manusia butuh sesuatu untuk menyerdahanakan realitas
yang bersifat kompleks.
2.
Manusia butuh sesuatu untuk menghilangkan rasa cemas (anxiety) ketika berhadapan dengan
sesuatu yang berhadapan dengan sesuatu yang baru, manusia lalu menggunakan
stereotip.
3.
Manusia butuh cara yang ekonomis untuk membentuk
gambaran dari dunia sekitarnya,
4.
Manusia tidak mungkin mengalami semua kejadian,
karenanya manusia mengendalkan informasi dari pihak lain (media) sebagai
jendela dunia. Maka, terjadilah duplikasi stereotip.
Menurut Alvin
Day, sifat manusia yang selalu mencari kesamaan mendasar mnegenai segala
sesuatu menyebabkan stereotip, dalam kacamata komunikasi, bukanlah hal
mengejutkan jika stereotip beranak pinak dalam content hiburan serta informasi massal.
Stereotip merupakan perilaku yang sudah ada
sejak zaman purbakala. Kemudian steretotip sebagai konsep modern baru digagas
oleh Walter Lippmann dibukunya yang berjudul “public opinion”. Menurut Lippmann, stereotip merupakan cara
ekonomis untuk melihat dunia secara keseluruhan. Hal ini sebabkan karena
individu tidak dapat sekaligus mengalami dua event berbeda dalam tempat berbeda secara bersamaan. Karena itu
manusia menyandarkan pada testimony orang lain guna memperkaya pengetahuannya
mengenai lingkungan sekitar. Media merupakan jendela yang penting dalam
memberikan pengalaman yang hampir seperti aslinya dapat menjadi mata dan
telinga untuk mengamati alam yang tidak bisa dialami secara langsung, Drngan itu
media merupakan katalis (mempercepat) budaya dan juga pengaruh yang tak
terhindarkan pada cara pandang seseorang akan dunia.
Guru besar
dalam jurnalistik Hawaii University, Tom Brislin, menulis bahwa ketika media
menyuguhkan informasi serta hiburan saat itu juga media menghasilkan stereotip
yang berperan besar terhadap diskriminasi, gangguan, kekerasan pada kelompok
tertentu, dan penggambaran gender dalam dunia nyata.
Sisi lain
praktisi media mempunyai tanggung jawab membedakan stereotip dan dunia nyata. Lippman
mengatakan, pola-pola stereotip adalah tidak netral. Karena stereotip meliputi persepsi personal
seseorang tentang realitas, maka ia sangat bertanggung jawab pada pembentukan
perasaan. Juga, karena stereotip adalah mekanisme pertahanan diri, dengannya
membuat rasa aman denga posisi yang seperti apa adanya, pandangan terakhir
mengatakan stereotip sebagai proses netral, memiliki peran menjaga kesehatan
jiwa.
Masyarakat
egaliter, stereotip dipandang sebagai sesuatu yang tidak fair. Penggunaan stereotip menutup ruang melihat individu dengan
segala keunikan dan kapabilitas masing-masing.
Sedangkan dalam kelompok, penggunaan stereotip menghilangkan hak
individu untuk menentukan diri sendiri, dimana hak ini adalah nilai dasar dari
pembentukan masyarakat.
Dapat
dikatakan bahwa stereotip memiliki nilai negatif, diantaranya :
1.
Melanggar nilai-nilai kemanusiaan, yakni kejujuran dan
ketulusan.
2.
Tidak fair,
karena meniadakan perbedaan dan potensi individu.
3.
Stereotip mengarahkan pada kebohongan.
4.
Stereotip pada media mengakibatkan audiens berpikiran
sempit.
Hal yang
membuat stereotip merupakan musuh kultural yang susah dihilangkan adalah
kenyataan bahwa kadangkala stereotip berdasarkan kebenaran realita. Dengan
bahasa lain, tidak semua stereotip salah.
C. PERAN STEREOTIP DALAM KOMUNIKASI
Media massa
telah memberikan dampak pada perkembangan masyarakat. Munculnya persepsi
anggota masyarakat mengenai dampak media massa yang dapat dibilang besar dapat
mempengaruhi bagaimana proses komunikasi dalam konteks masyarakat massa
membentuk dan dibentuk oleh budaya massa yang ada. Media massa sendiri dalam
masyarakat mempunyai beberapa fungsi sosial, yaitu fungsi pengawasan media,
interpretasi, transmisi nilai dan hiburan, dengan penjelasan sebagai berikut
ini:
1. Fungsi pengawasan media adalah fungsi yang
khusus menyediakan informasi dan peringatan kepada masyarakat tentang apa saja
di lingkungan mereka.
2. Fungsi interpretasi adalah fungsi media yang
menjadi sarana memproses, menginterpretasikan, dan mengorelasikan seluruh
pengetahuan.
3. Fungsi transmisi nilai adalah fungsi media
untuk menyebarkan nilai, ide dari generasi satu ke generasi yang lain.
4. Fungsi hiburan adalah fungsi media untuk
menghibur manusia.
Pada perkembangan media massa, terdapat
fungsi-fungsi baru yaitu membentuk komunitas dan komunikasi virtual dunia maya
yang didukung oleh internet. Muncul lah persepsi baru bahwa media massa,
masyarakat, budaya massa, dan budaya tinggi secara simultan saling berhubungan
satu sama lain yang dipengaruhi oleh perkembangan sosial baru dalam era
modernisasi. Pada prosesnya terdapat beberapa hal yang menjadi pertimbangan.
·
Pertama,
perkembangan media sampai pada satuan kecil masyarakat membuat kita harus
membuat sikap baru pada kepercayaan sosial.
·
Kedua,
perkembangan media massa baru mengubah
persepsi sosial masyarakat karena pengaruhnya yang sedemikian dahsyat.
·
Ketiga, proses
transisi sosial baru yang dialami oleh masyarakat menuntut kita untuk
memperbaharui konsep sosial yang sudah ada.
·
Keempat ,
diperlukannya sistesa baru yang mengatasi kelemahan atau kekurangan konsep
masyarakat massa dan sintesa baru yang mengatasi konsep pluralisme dan
otoritarianisme modernisasi.
Konten media dalam semua bentuk sangat
berkaitan erat dengan dengan stereotip. Stereotip merupakan alat bagi individu
untuk memahami lingkungan sekitar dan pada saat yang sama media merupakan
jendela bagi individu untuk melihat dunia luar. Namun, stereotip dalam media
juga menimbulkan dampak seperti terjadinya diskriminasi dan prejudice yang
diakibatkan oleh kemampuan yang dimiliki media untuk menyeleksi simbol dan
image untuk kemudian meniadakan aspek lain.
D. STEREOTIP
RAS MINORITAS
Dalam stereotip minoritasi, Stuart Hall
menganggap bahwa terdapat kejanggalan pada representasi kelompok minoritas
dalam media, bahkan ia meyakini bahwa imaji-imaji yang dimunculkan oleh media
semakin memburuk. Dapat dilihat dari kecenderungan media yang sentif terhadap
gaya hidup kelas menengah ke atas, mayoritas masyarakat yang sudah teratur,
sementara orang kulit hitam digambarkan sebagai kelompok luar. Dimana
masyarakat kulit hitam bermasalah dalam area kekuasaan sensitif itu.
Representasi, dipahami sebagai gambaran
sesuatu yang akurat yang berarti sebuah cara dimana memaknai apa yang diberikan
pada benda yang digambarkan. Terdapat gap representasi yang menjelaskan
perbedaan antara makna yang diberikan oleh representasi dan arti benda yang
sebenarnya digambarkan. Maka dari itu, representasi harus dipahami dari peran
aktif dan kreatif orang memaknai dunia. Representasi tidak hadir sampai setelah
selesai direpresentasikan, representasi tidak terjadi setelah sebuah kejadian.
Representasi adalah konstitutif dari sebuah kejadian. Representasi adalah
bagian dari objek itu sendiri.
Konsep budaya mempunyai peran sentral dalam
proses representasi karena pemaknaan muncul sebagai akibat dari berbagi peta
konseptual ketika anggota-anggota dari sebuah budaya atau masyarakat berbagi
bersama. Faktanya, budaya sendiri adalah sebuah sistem representasi. Kebudayaan
merupakan konsep yang sangat luas dan menyangkut pengalaman berbagi. Seseorang
dikatakan berasal dari kebudayaan yang sama jika ia membagi pengalaman yang
sama dengan anggotanya melalui proses komunikasi dengan Bahasa yang telah
mengeksternalisasi makna yang kita buat dan juga sebagai medium yang menjadi
perantara kita dalam memaknai sesuatu, memproduksi, dan mengubah makna. Bahasa
mampu melakukan semua ini karena ia beroperasi sebagai sistem representasi.
E.
STEREOTIP WANITA
Media sering menggambarkan wanita sebagai
sosok yang kurang rasional, bodoh, namun kadang juga sebagai pribadi yang tegas
dan mandiri. Perempuan dicitrakan sebagai pilar rumah tangga yang bergelut
dengan tugas utama dari sumur, kasur, sampai ke dapur. Sejumlah stereotip pun
lantas menempel pada perempuan dan laki-laki berdasarkan jenis kelamin.
Terjadinya pemakluman bahwa perempuan adalah emosional, bodoh, penakut,
cengeng, dan laki-laki adalah sebaliknya. Upaya menghapuskan pemberitaan yang
sangat menyudutkan perempuan itu bukan hal mudah.
Stereotip
lain yang melekat pada wanita adalah stereotip janda sebagai sosok yang tidak
baik. Wiwik Karyono, penulis novel ‘Pacarku Ibu Kostku’, mengakui adanya
anggapan bahwa janda itu kerap haus akan cinta dan seks sehingga wajar saja
jika keberadaannya sering direndahkan. Bahkan Terkadang,
kebiasaannya merokok malah disalahartikan oleh orang lain. Ada yang menganggapnya
bukan perempuan baik-baik. Pada beberapa kelompok masyarakat, perempuan perokok
bahkan kerap dihubungkan dengan stereotip buruk
dan mendiskreditkan bukan perempuan
baik-baik, urakan dan sebagainya. Keberanian untuk merokok ini akhirnya menjadi sesuatu yang
membanggakan dan memuaskan, baik bagi laki-laki maupun perempuan.
Stereotip lain yang ada pada wanita adalah soal kecantikan. Kecantikan
yang identik dengan perempuan berekor pada munculnya kebutuhan akan produk kecantikan. Kebutuhan untuk tampil cantik
menjadi kebutuhan yang tidak disadari karena konsumen merasa
membutuhkan dan menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah, apalagi di
suatu masa di mana lingkungan sosial sangat mengedepankan penampilan.
Ketidaketertarikan perempuan dengan
produk kosmetik justru dianggap sebagai sesuatu yang tak lazim. Citra yang
diinginkan perempuan dengan mengonsumsi produk kecantikan Tentunya adalah perempuan ideal yang
bertubuh langsing, berkaki jenjang, berkulit putih, berambut hitam lurus panjang tergerai, berhidung bangir, sama (atau paling tidak menyerupai) seperti profil tubuh para
model yang memeragakan iklan produk kecantikan.
Stereotip cantik ideal pun menjadi matang dengan adanya penegasan dari iklan produk kecantikan yang mengutamakan daya tarik seksual
itu sebagai ujung tombak kecantikan. Stereotip-stereotip
seperti ini kemudian diterima
sebagai sesuatu yang lumrah, yang merasuki alam pikiran individu secara alamiah
tanpa paksaan. Namun stereotip-stereotip itu bisa jadi juga mencerminkan nilai-nilai sosial dominan yang
berlaku di masyarakat
atau karena produser media laki-laki masih dipengaruhi
oleh stereotip-stereotip tersebut. Ini yang oleh
Tuchman disebut sebagai hipotesis pencerminan, yaitu bahwa media massa mencerminkan nilai-nilai sosial yang dominan di masyarakat.
Pembentukan citra ini tak lepas dari
peran media massa, terutama televisi
(TV) yang sangat akrab dengan keseharian masyarakat. Citra cantik ideal itu
merupakan produksi budaya TV sebagai simbol. TV memproduksi
dan menyiarkan realitas dalam bentuk
simbol-simbol yang meliputi makna dan komunikasi,
seperti kata, bahasa, mitos,
nyanyian, seni, upacara, tingkah laku, benda-benda, konsep-konsep, dan sebagainya. Sebagai contoh,
iklan produk kecantikan yang pernah
ditayangkan di media televisi jelas menunjukkan bahwa kulit putih lebih baik daripada berkulit
gelap.
Stereotip tidak lepas kaitannya dengan seks dan gender, yaitu suatu konsep sosial yang
berhubungan dengan pembedaan (distinction)
karakter psikologi dan fungsi sosial antara perempuan dan laki-laki yang
dikaitkan dengan anatomi jenis
kelaminnya (sex).
Misalnya perempuan dijelaskan berkarakter baik bila
ia sebagai ibu rumah tangga atau
istri yang baik (seperti pada iklan minyak
goreng), sedangkan laki-laki berkarakter baik
bila ia sebagai
individu di atas dunia yang lebih luas. Stereotip memang sangat merugikan perempuan yang tidak hanya dalam iklan tetapi juga
masuk ke wilayah seni. Namun,
dibandingkan dengan media iklan, media seni
ternyata dapat juga menjadi alat untuk mendobrak stereotipe itu sendiri. Dalam
media seni kita bisa menemukan semangat
kebebasan dibandingkan dengan
media iklan.
F. STREOTIP ORANG DENGAN ORIENTASI SEKSUAL
MENYIMPANG
Hingga saat ini homoseksual masih digambarkan
oleh media dan masyarakat sebagai kejahatan dan karenanya tidak boleh diberi
ruang untuk berkembang. Kamilia Manaf seorang koordinasi institut pelangi
perempuan menegaskan bahwa lesbian bukanlah penyakit, melainkan hanya masalah
orientasi seksual dan tetap bisa menunjukan karya-karya, prestasi, atau buah
pikir yang sama seperti manusia lainnya. Padahal dalam konteks kebebasan, maka
lesbian dan gay adalah pilihan. Pernyataan-pernyataan yang sering diangkat
bahwa menjadi seorang gay atau lesbian adalah penyakit atau abnormal,
menyebabkan individu-individu mencinta sesama jenis kerap terganggu dengan
orientasi seksual yang dimilikinya dan seringkali berusaha untuk menyukai lawan
jenisnya atau dengan kata lain berusaha untuk menjadi seorang heteroseksual.
G. STREOTIP
AGAMA
Streotip agama merupakan pelabelan terhadap
suatu agama bisa keburukan maupun kebaikan. Di dalam buku ini menjelaskan
kasus-kasus agama yang pernah terjadi salah satunya ialah pelabelan Islam
sebagai agama teror. Paus benedictus xvi misalnya pernah mengatakan bahwa makna
jihad dalam islam dan penyebaran islam dengan pedang (kompas, 16 September
2006), ini merupakan streotip usang yang sudah dibantah orientalis sekelas
bernard lawis mengatakan tidak mungkin umat islam berperang menggunakan tangan
kanan memegang perang, lalu tangan kiri memegang Al Quran karena Al Quran kitab
suci yang hanya bisa dipegang tangan kanan. Dengan demikian, streotip itu tidak
bisa digeneralisasikan.
H. MELAWAN
STREOTIP
Ada tiga pendekatan untuk produksi pesan yang
ditujukan bagi pelanggengan diskriminasi dan prejudice tidak dapat dibenarkan
atas pertimbangan etika yaitu :
1. Deontologis
Pendekatan ini digagas oleh Immanuel Kants
dengan menekankan kepada pelaksaan tugas (duty-based) dari setiap individu,
sehingga rasisme dan prejudice bukan lagi sebagai pertimbangan universalitas
standar sikap. Deontologis selanjutnya memeriksa motif yang ada pada agen
moral, tanpa melihat konsekuensi yang spesifik digariskan oleh streotip.
2. Telelogis
Pendekatan ini bisa disebut juga
konsekuensialis dimana menekankan kepada konsekuensi dari suatu keputusan.
Dalam pedekatan ini streotip adalah tindakan yang tidak adil sekaligus
menyerang segmentasi sosial, karenanya streotip mesti ditolak.
3. Golden mean
Pendekatan ini sangat berguna ketika karakter yang distreotipkan justru mempresentasikan beberapa individu dalam suatu kelompok. Dalam kondisi ini praktisi komunikasi harus berhati-hati, yakni tidak menggunakan gambaran yang ada untuk menilai keseluruhan kelompok tapi bisa mengapresiasi diversitas individu.
Pertanyaan :
Media menjadi penghasil perilaku stereotip
dimana iklan saat ini menggerakkan orang untuk menjadi sesuai dengan nilai
iklan tersebut, serta media menjadi pembentuk stereotip terhadap agama
tertentu. Lalu bagaimana seharusnya cara
menghindari stereotip dalam media.
Komentar
Posting Komentar