KONFLIK KEPENTINGAN DAN BUDAYA POPULER
Kelompok
6 Ilkom C :
Kioko Vibie Adzira
Nindi Anggita Febriani
Queena Adzikra Arza
Reza Dwi Pangestu
Resume buku Etika dan Filsafat Komunikasi
Muhammad Mufid,2009
BAB
13
Konflik
Kepentingan dan Budaya Populer
A. Konflik
kepentingan
Konflik kepentingan merupakan isu
akuntabilitas. Novel ali (dalam suara merdeka, 7 Januari 2007) mengatakan bahwa
komunikasi itu kepentingan. Tiap orang yang berkomunikasi, punye kepentingan,
atau karena setiap sistem dan proses komunikasi mengisyaratkan kepentingan,
maka (di balik) komunikasi cenderung selalu terbuka konflik kepentingan. Jika
terjadi konflik kepentingan sebagai akibat berlangsungnya proses komunikasi
tertentu, pakar komunikasi umumnya akan memandang fenomena ini sebagai sesuatu
yang biasa terjadi.
B. Pengertian
konflik
Robbins (1996), dalam “organization behavior”
menjelaskan bahwa konflik adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat
adanya ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh
atas pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh positif maupun negatif. Persaingan
erat kaitannya dengan konflik karena dalam persaingan beberapa pihak
menginginkan hal yang sama tetapi hanya satu yang mungkin mendapatkannya. Konflik
tidak selalu berakibatkan negatif tetapi dengan adanya konflik dapat memberikan
pembelajaran.
C. Jenis-jenis
konflik
Ada lima jenis konflik menurut penulis buku
“management” james a.f stoner yaitu :
1. Konflik intrapersonal
Konflik yang
terjadi pada diri sendiri. Konflik terjadi bila ada suatu peristiwa memilii dua
keinginan yang tidak mungkin dapat dipenuhi sekaligus. Dalam konflik
intrapersonal ini ada tiga macam bentuk yakni :
- konflik
pendekatan-pendekatan
- konflik
pendekatan-penghindaran
- konflik
penghindaran-penghindaran
2. Konflik interpersonal
Konflik ini terjadi diantara dua individu yang
saling bertentangan karena kepentingan atau keinginnan. Hal ini sering terjadi
atas perbedaan latar belakang seperti status, jabatan, bidang kerja, dan
sebagainya.
3. Konflik antar-individu dan kelompok
Konflik ini berhubungan dengan cara individu
menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas yang ditekankan kepada
mereka oleh kelompok kerja mereka.
4. Konflik antara kelompok dalam organisasi yang
sama
Konflik tipe ini yang sering terjadi di dalam organisasi
konflik ini antar lini dan staff, pekerja dan pekerja.
5. Konflik antara organisasi
Konflik ini berdasarkan pengalaman ternyata
telah menyebabkan timbulnya pengembangan produk-produk baru, teknologi baru dan
servis baru, harga lebih rendah dan pemanfaat sumber daya secara lebih efisien.
D. PENGERTIAN KONFLIK
KEPENTINGAN
Konflik kepentingan
adalah suatu keadaan sewaktu seseorang pada posisi yang memerlukan kepercayaan
namun memiliki kepentingan profesional dan pribadi yang bersinggungan dan dapat
menyulitkan orang tersebut untuk menjalankan tugasnya. Suatu konflik kepentingan
dapat mengurangi kepercayaan terhadap seseorang atau suatu profesi. Konflik
muncul sebagai tarikan antara keberpihakan pada nilai partikular dan kewajiban
secara umum. Dalam konflik kepentingan tidak terrdapat peraturan yang melarang
hal-hal yang potensial memunculkan konflik kepentingan.
Jeffrey Olen dalam
buku Ethics in Journalism mengatakan bahwa adopsi media soal
peraturan-peraturan untuk menghilangkan konflik kepentingan adalah bukan hanya
untuk memaksimalkan jangkauan audiens, tapi jurnalis memang secara mendasar
memiliki kewajiban moral untuk dapat dipercaya. Salah satu problem utama dalam
menghilangkan konflik kepentingan adalah keterlibatan struktur pada level tinggi.
Alvin Day mencontohkan pada media, konflik kepentingan justru muncul dari
perusahaan besar yang notabene adalah pengiklan di media yang bersangkutan ketika
perusahaan tersebut menjadi subjek media.
E. SUMBER KONFLIK KEPENTINGAN
Kita perlu mencari
tahu sumber dari konflik kepentingan tersebut. Jika kita ingin menghindari atau
paling tidak menguranginya. Kehidupan ini penuh dengan jebakan dilema
loyalitas, dan jika kita bisa mengetahui perangkap tersebut dalam banyak kasus
kita tidak berdaya untuk menghindarinya. Riset menunjukkan bahwa konflik
mempunyai beberapa penyebab, dan secara umum dapat dibagi ke dalam tiga
kategori:
-
Perbedaan komunikasi, adalah
perselisihan yang timbul dari kesulitan semantik, kesalahpahaman bahasa,
diskomunikasi, atau juga communication-overload.
-
Adanya perbedaan struktural.
Setiap organisasi perusahaan pasti memiliki struktur, baik secara horizontal
ataupun vertikal. Perbedaan struktural ini sering kali menciptakan masalah pengintegrasian
dan ujung-ujungnya mengakibatkan terjadinya konflik kepentingan.
-
Sumber konflik yang ketiga adalah
adanya perbedaan kepribadian. Faktor-faktor, seperti perbedaan latar belakang,
pendidikan, dan pengalaman.
Dalam kacamata komunikasi,
sumber konflik kepentingan yang utama adalah:
1. Hubungan yang Menimbulkan Konflik (conflicting relationships)
Memiliki
dua hubungan yang sama-sama memerlukan loyalitas serupa. Independensi kita akan
menjadi terbatas.
2.
Pemberian dan Hadiah (gifts and
perks)
Jika
praktisi komunikasi menerima hadiah, cendera mata dan pemberian lain yang mengandung
kepentingan tersembunyi (vested interests), maka hal tersebut akan memunculkan
keraguan terhadap obyektivitas praktisi komunikasi tersebut.
3.
Checkbook Journalism
Terjadi
ketika media membayar narasumber, sehingga media yang bersangkutan akan memperoleh
hak eksklusif untuk menampilkan narasumber tersebut.
4.
Hubungan Personal
Faktor
yang sangat berpotensi memunculkan konflik kepentingan namun sangat sulit
dihindari adalah hubungan personal. Maka, dalam konteks ini bisa dipahami jika
ada sejumlah praktisi komunikasi yang memilih untuk menghindar dari kedekatan
personal.
5.
Partisipasi Publik
Dilema
konflik kepentingan juga muncul dari kenyataan bahwa praktisi komunikasi juga
bagian dari publik secara umum.
F.MEDIA DAN
KONFLIK KEPENTINGAN
Konflik kepentingan pada media
berkaitan dengan dua pihak, penguasa dan pengusaha. Media yang berafiliasi atau
dimiliki oleh pengusaha atau pejabat memiliki konflik kepentingan. Apa berpihak
ke publik atau berpihak pada penguasa yang merupakan sebagai pemilik. Jika
media massa dibiarkan menjadi aparatus kekuatan sosial-politik, seluruh materi
pelayanan akan senantiasa dikonfirmasikan terlebih dahulu dengan berbagai interest politik yang bersangkutan.
Akibatnya, keunggulan media akan bersifat subordinated
dengan pamrih politik. Pelayanan
media massa bersifat sosial, bukan politik. Sedangkan pelayanan politik
bersifat politik,bukan sosial. jika pelayanan media bersifat politik, muatan
politik di dalamnya berfungsi sebagai variabel antara. Artinya, pembentukan
atau perubahan kognisi, afeksi maupun konasi politik lewat media massa tidak
dengan sendirinya terealisasi, kecuali setelah melampaui berbagai proses
sosial.
Jika media massa terperangkap
kepentingan politik praktis, kinerjanya akan lebih bersifat monoton dimana
disebabkan terlalu dominannya misi politik, yang dipikulkan di pundak media.
Media massa yang tidak menjadi aparatus politik, lebih mampu memenuhi dan
menciptakan selera publik. Karena beban politik praktis yang dipikul, nyaris
sangat kurang. Media yang terlampau dibebani berbagai misi politik, menyebabkan
kreativitas pelayanan terkooptasi oleh berbagai kepentingan di luar kerangka
profesionalisme. Fenomena konglomerasi industri media adalah krisis lain dari
demokratisasi media yang dapat melemahkan fungsi kontrol media dalam upaya
membangun masyarakat mandiri karena berkembangnya bisnis industri pers rawan
menimbulkan konflik kepentingan. Konflik kepentingan media yang sudah
menggurita bisnisnya bisa terjadi dengan pemasangan iklan, politikus, pimpinan
pemerintahan, dan lainnya yang menyebabkan media tidak lagi kritis.
Karena media tidak kritis, maka
semakin sedikit kepentingan publik yang diangkat media massa “mainstream”.
Padahal, pers harus meningkatkan fungsi kontrol sosial, agar tidak terjadi
penyimpangan yang merugikan masyarakat. Ashadi Siregar mengatakan keberadaan
media massa perlu dilihat dalam konteks epistemologis, dengan melihat
jurnalisme sebagai suatu susunan pengetahuan dalam mengahadapi realitas sosial.
Adanya jurnalisme, dikenal media jurnalisme yang dapat dibedakan dengan genre
media massa lainnya. Media jurnaslisme mengutamakan informasi faktual
berkonteks kehidupan publik, lain dengan media massa hiburan dimana
mengutamakan informasi fiksional berkonteks kehidupan privat.
Media jurnalisme ditandai dengan
fungsi sebagai institusi sosial yang mengangkat fakta-fakta sosial sebagai
informasi jurnalisme. Sehingga fungsi utamanya adalah untuk menyampaikan
berita. Berita (news-story) dapat
dibicarakan dalam berbagai definisi, mulai dari cara mengambil salah satu unsur
kelayakan berita (newsworthy),
kebaruan (newness), penting (significance), atau formula simple “K”
seperti konflik, kantong (uang), serta kelamin (seks). Hal ini adalah kaidah
teknis dalam memproduksi berita, untuk masuk substansi jurnalisme, bahwa berita
adalah fakta sosial yang direkonstruksi kemudian diceritakan, dimana cerita
fakta sosial ditampilkan di media massa.
Menurut Ashadi, orientasi jurnalisme
dasarnya bertolak dari dua sisi, pertama bersifat teknis berkaitan dengan
standar kelayakan berita (newsworthy),
dan kedua bersifat etis dengan standar normatif dalam menghadapi fakta-fakta.
Hal pertama yaitu resultan dari dorongan kepentingan pragmatis khalayak dan
pengelola media. Kepentingan pragmatis khalayak dapat bersifat sosial atau
psikis. Sementara kepentingan pragmatis pengelola media dapat mewujud dalam
kaitan politis dan ekonomis. Kepentingan pragmatis pengelola media berakibat
pada dinamika media jurnalisme yang tidak menjalankan fungsi imperatif bagi
publik. Media tidak menjalankan fungsi imperatif sosial, tetapi menjalankan
fungsi organic dari institusi lain seperti politik dan bisnis.
Kepentingan media dilihat melalui
orientasinya, dengan menjalankan orientasi sosial fungsi imperatif media
jurnalisme akan tinggi, sebaliknya fungsi imperatif menjadi rendah jika media
menjalankan orientasi ekonomi-politik. Hal ini bertalian dengan landasan
otonomi dan independensi dengan orientasi sosial yang akan menggerakkan
fungsinya dalam kebijakan pemberitaan. Kebijakan dengan orientasi sosial akan
melahirkan kecendrungan objektivikasi untuk mencapai objektivitas informasi,
sedang dalam orientasi ekonomi-politik dalam proses komodifikasi yang
menghasilkan komoditas ekonomi (bisnis) ataupun politik.
Sisi kedua adalah orientasi bersifat
etis yang berada dalam tataran ideal normatif, yaitu cita-cita sosial yang
ingin diwujudkan pengelola media dalam kaidah profesionalisme. Dalam lingkup
masyarakat demokratis, media massa khususnya jurnalisme menjalankan fungsi
imperatif secara objektif dalam proses yang menghubungkan warga dengan publik,
dengan tujuan warga dapat terlindungi dan penetrasi kekuasaan struktural dari
negara, modal, dan sosial (komunalisme ataupun agama). Keberadaan kerja
jurnalisme sebagai suatu profesi tidak sekedar komponen dalam proses manajemen
korporasi, tetapi bekerja dengan kekuasaan.
Seorang jurnalis pada hakikatnya
merupakan pekerja kultural Karena berurusan dengan wacana. Dapat saja menjadi
semacam pedang jika media yang diurusnya sebagai komoditas ekonomi, atau broker
kekuasaan jika mengurus informasi sebagai komoditas politik. Sebagai pekerja ia
tentu saja harus bertanggung jawab secara teknis pada manajemen tempatnya
bekerja. Namun dia terkait secara moral (moral
obligation) dalam akuntabilitas sosial pada publik. Tanggung jawab moral
ini yang membedakan pelaku profesional dengan pekerja umumnya. Pandangan yang
menempatkan jurnalis sebagai kerja dalam manajemen, telah meredusir makna
kultural profesi ini sebagai pertukangan.
Pada hal teknis, proses kerja jurnalis
dalam mengolah fakta publik ke informasi jurnalisme digerakkan oleh politik
pemberitaan (newsroom policy) dari
organisasi redaksinya politik pemberitaan dapat berbeda antara satu media
dengan lainnya, tetapi semuanya dapat dikembalikan pada kaidah universal,
sejauh mana proses pemberitaan dapar mentransformasi wacana fakta sosial secara
identik sebagai wacan fakta media. Maka dari itu, prinsip pertama dalam
jurnalisme adalah objektivitas, dengan mengasumsikan bahwa khalayak media
menuntut agar wacana yang terangkap dari suatu berita (fakta media) adalah
identik dengan wacana fakra sosial. kecermatan (accuracy) sebagai landasan kerja jurnalisme, dimaksudkan untuk
menjaga agar wacana fakta media, persis alias identik dengan fakta sosial.
G.
PENDEKATAN TERHADAP KONFLIK KEPENTINGAN
Spiegel (1994) menjelaskan ada lima tindakan
yang dapat kita lakukan dalam penanganan konflik, yakni:
1. Berkompetisi
2. Menghindari Konflik
3. Akomodasi
4. Kompromi
5. Berkolaborasi
Louis Alvin Day (1996: 162), menyodorkan tiga pendekatan
untuk mengatasi konflik kepentingan, yakni:
1. Penetapan tujuan sedemikian rupa
sehingga konflik kepentingan bisa dicegah. Konflik mesti dicegah dengan
menjadikan tugas (duty based) sebagai
koridor tingkah laku praktisi komunikasi.
2. Jika konflik tidak dapat diantisipasi,
setiap upaya harus dikerahkan untuk mengatasi konflik. Misalnya suatu koran
melakukan investigasi kasus korupsi yang melibatkan pemilik saham. Maka, harus
dipertimbangkan betul sejauh mana investigasi dijalankan dan sejauh mana hasil
investigasi ditulis dalam koran. Hal ini dimaksudkan agar potensi konflik
kepentingan tidak kemudian berkembang menjadi konflik sesungguhnya.
3. Jika konflik kepentingan tidak bisa
dicegah, maka publik atau klien harus mengetahui akan adanya konflik tersebut.
Konsultan PR yang menangani kilen dua organisasi yang berseberangan misalnya,
harus memberi tahu kepada kedua klien tersebut tentang adanya konflik
kepentingan dimaksud. Dengan demikian, akan dicari langkah-langkah produksi
pesan yang menguntungkan kedua klien tersebut. Prinsip ini juga merupakan
penerapan dari prinsip golden mean yang dikemukakan oleh Aristoteles.
Hal yang
perlu dilakukan untuk mengantisipasi konfli, yaitu :
1. Introspeksi diri
2. Mengevaluasi pihak-pihak yang terlibat
3. Identifikasi sumber konflik.
4. Mengetahui pilihan penyelesaian atau
penanganan konflik yang ada dan memilih yang tepat.
Pertanyaan
:
Seperti
yang sudah diketahui konflik intrapersonal merupakan konflik yang kita alami
dengan diri kita sendiri, lalu bagaimana cara atau tips mengatasi konflik
intrapersonal tersebut apakah harus melibatkan orang lain dalam mengatasi
konflik tersebut?
Komentar
Posting Komentar